Cerita Sex Hope SADNESS AND SORROW – Part 3

Cerita Sex Hope SADNESS AND SORROW – Part 3by on.Cerita Sex Hope SADNESS AND SORROW – Part 3Hope – Part 3 Hope BAB 2 SADNESS AND SORROW Tomi masih saja berkutat dengan roti di tangannya. Perutnya menolak mentah-mentah makanan murahan yang kali ini ia santap. ‘haduhh…… ini perut kok ga bisa diajak kompromi…..’ umpatnya dalam hati “perantauan ya mas?” tanya penjaga warung rokok itu. Tomi mengangguk. “belum pernah kesini to??” Tomi menggeleng. […]

Hope – Part 3

Hope
BAB 2
SADNESS AND SORROW

Tomi masih saja berkutat dengan roti di tangannya.
Perutnya menolak mentah-mentah makanan murahan yang kali ini ia santap.
‘haduhh…… ini perut kok ga bisa diajak kompromi…..’ umpatnya dalam hati

“perantauan ya mas?” tanya penjaga warung rokok itu.
Tomi mengangguk.
“belum pernah kesini to??”
Tomi menggeleng.
“nih saya kasi tau….. kalo kamu belom punya tempat tinggal dan masih hidup ngegembel, jangan tidur sembarangan. Minimal kamu pergi ke kabupaten kota. Disana jarang ada preman, gak kaya di sini. Di kampung kayak gini preman bertebaran dimana-mana mas…”

Tomi menyimak pembicaraan itu sambil mencoba menelan roti yang dikunyahnya dengan meneguk air minum.

“seberapa jauh mas?”
“mau jalan kaki apa naik angkot?”
“kalau jalan kaki?”
“yahhh…. paling-paling sampenya besok… masih dua puluh kilo lagi….”
“kalo naik angkot bayar berapa mas…”

Pemuda itu mengangkat telunjuk sambil berkata.
“sepuluh ribu…. angkotnya yang warna kuning putih… tuh yang kayak gitu….”
Telunjuknya yang tadi menunjuk ke atas kini mengarah kepada mobil angkot yang sedang ‘ngetem’ di perempatan jalan.

“ohhh gitu ya….. makasih ya mas…”
“ga usah sungkan mas… saya juga pernah jadi perantauan… jadi saya paham susahnya jadi diri mas…..”

Tomi hanya tersenyum mendengarnya.
Mengetahui ada orang yang pernah senasib dengan dirinya merupakan obat yang sangat mujarab untuk mengusir sedikit rasa gundah.

“yawes to… kalo memang mau kesana harus cepat…. angkotnya gak banyak… sehari paling Cuma ada empat mobil aja yang lewat sini…”
Mata Tomi terbelalak. Serta merta ia segera menelan bulat-bulat roti di mulutnya dan menghabiskan air minum di gelas yang sudah ia buka.

“ohhh yaudah mas… makasih banyak ya mas…”
Tomi membungkukkan badan, mengutarakan rasa terima kasihnya. Ia memang jarang sekali melakukan hal itu ketika masih berstatus sebagai ‘anak orang kaya’ tapi sekarang keadaan sudah berbeda, maka dari itu ia tak segan untuk merendahkan egonya untuk sekedar mengucapkan terima kasih yang amat sangat.

Ia segera bangkit, menyambar tas hitamnya dan berlari kearah mobil angkot yang berada di perempatan jalan.

“kotaa…kotaaaa..kotaaa….” seorang pemuda berteriak-teriak memanggil penumpang.
Rupanya ia adalah supir angkot tersebut.

Hampir saja Tomi tak kebagian tempat, hanya tersisa satu saja tempat duduk di angkot tersebut walaupun berada di bibir pintu masuk. Beruntung baginya, angkot tersebut memang tidak akan pergi sebelum penumpangnya penuh.

“yoooo… berangkat yoo…..ayo mas…..naik-naik….”
Tomi yang sudah mencapai mobil itu segera naik, sebelah kakinya tidak bisa ia masukkan ke dalam mobil yang terpaksa harus ia letakkan di bagian pintu masuk yang seperti anak tangga.

Tubuhnya kini bersandar di pintu mobil yang terlipat dua.
Mobil mulai melaju. Deru angin semilir yang menerpanya seakan menjadi obat penghilang rasa lelah. Peluh dan keringat yang menempel di tubuhnya seakan tidak terasa, berganti dengan kesejukan yang kini menyeruak masuk di sela-sela sweater hoody (bener gak nik tulisannya ) yang ia kenakan.

Deretan bangunan yang ia lewati melesat dengan cepat di pandangannya.
Jalan di daerah itu sedikit rusak karena berlubang disana-sini. Namun sepertinya sang supir angkot sudah hapal betul dengan medan yang ia lalui. Beberapa kali mobil itu membanting setir ke kanan dan kekiri menghindari lubang.

Tomi harus ekstra waspada jika tidak ingin terlempar dari tempat duduknya. Berhubung ini adalah kali pertama ia naik angkutan kota, ia mengcengkeram badan angkot itu sekuatnya.

Pemandangan pedesaan kini telah berganti dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Hijaunya alam, rimbunnya pepohonan kini tak lagi dapat ia lihat.
Pemandangan seperti ini sudah sangat familiar dimatanya. Tak jauh berbeda dengan kota tempat ia tinggal dahulu.

Setidaknya ia cukup terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ia berharap dapat bertahan dengan keadaan ini sampai saatnya tiba, dan ia akan pulang.

Angkot itu sudah berhenti disebuah terminal besar dengan hiruk pikuk orang yang lalu-lalang.
Suasana khas perkotaan.

Di setiap sudut ia melayangkan pandangannya, puluhan pedagang kaki lima sedang menjajakan dagangannya.

“yoooo….. sepuluh ribu tiga yooo… celana dalam, sempak, BH, dipilih-dipilih… yooo…”
“sekilo lima belas rebu aja bu haji.. monggo bu….. apel, jeruk, pirnya dipilih ayoooo…”
“siapa lagi….siapa lagi…..obat mujarab buat ngobatin gatel-gatel, panu, kadas, kurap, semua bisa…. dari belerang asli…. siapa lagi…..”

‘hahaha…… sableng semua’ pikirnya.
Hari ini adalah pertama kalinya ia bisa tersenyum dengan tulus menghadapi kehidupan yang berat ini. Tak sepert hari-hari sebelumnya, ia hanya bisa tersenyum sedikit memaksa ketika berbicara dengan orang lain.

“kkkruuuuuyuukk…”
Perutnya yang tadi ia ganjal dengan roti nampaknya sudah mulai meronta kembali.

‘warung nasi…warung nasi… dimana engkau….’ batinnya.
Matanya kini jelalatan melihat berkeliling. Perhatiannya kemudian tertuju pada warung nasi yang berada di pojok terminal.

Perasaannya sedikit riang. Ia berjalan dengan santai, tanpa perlu khawatir ada orang yang tiba-tiba menarik lengannya dan memaksa menyerahkan dompetnya.
‘legaaaa……’

Ia memasuki warung nasi tersebut dan memesan menu standart, telor dadar dan sayur.
Tapi betapa terkejutnya ia, harga yang diminta begitu berbeda jauh dengan menu sama yang terakhir kali ia makan.

‘nasibbb…nasib…. apa mau dikata, ini kan di kota, bukan di desa…heeehhh’
Tomi menyodorkan selembar uang untuk membayar makanan itu.

Sesaat ia sempat menyesali kedatangannya ke kota besar itu. jika ia kalkulasi, maka ia harusnya dapat bertahan hidup dengan uang yang ia pegang hanya selama sebulan saja.
‘aduhhh….gimana ini….’

Selepas makan, ia kembali berjalan menyusuri hiruk pikuk kota itu.
Misi terbaru. Ia harus menemukan mata pencaharian, walaupun hasilnya tidak seberapa namun dirasa bisa mengulur waktu cukup lama agar ia tetap bisa makan.

Beberapa kali ia memasuki toko-toko di pinggir jalan, barang kali ada yang sudi mempekerjakan ia untuk satu hari saja. Ia memutuskan untuk bekerja serabutan. Setidaknya itu tidak meninggalkan jejak.

Hari-hari berlalu sejak saat itu.
Mencari pekerjaan di kota besar seperti itu tak semudah yang ia bayangkan.

Sejenak ia merenung, betapa mujur nasibnya dahulu.
Terlahir di keluarga yang kaya raya, seluruh kebutuhannya selalu terpenuhi, ia dapat bersekolah tinggi, masa depannya terjamin. ‘jadi begini nasib orang-orang kecil…’ batinnya.

Namun Tuhan masih berbaik hati menunjukkan jalannya. Walaupun terjal berliku, namun selama manusia percaya akan mukzizatnya, Tuhan tidak akan diam.

Setelah lelah berkeliling mencari pekerjaan yang tak kunjung ia dapatkan, Tomi kembali duduk termenung. Nafasnya masih terengah-engah, menimbangi suhu panas yang dipancarkan matahari.
Ia mengambil botol air yang ia simpan dalam tas hitam yang kini mulai kumal dan mulai meneguk isinya.

“glek..glek..glek..”
Air itu mengalir membasahi kerongkongannya, bagai oasis dipadang gurun nan gersang.
Kesadarannya yang mulai kabur kini pulih. Ia kembali bangkit berdiri dan mulai berjalan.

“Bruummm…brumm….”
Dua buah truk pengangkut beras berjalan dengan terburu-buru melalui belokan untuk masuk kedalam pasar. hampir saja tubuh Tomi terserempet.

‘heeeeeeehhh biarin lah…. namanya juga orang cari duit…’ pikirnya.
Jika saja ia masih berstatus ‘anak orang kaya’, mungkin ia akan segera melabrak dan memaki-maki pengemudi tersebut. Namun ketika ia merasakan beratnya mencari uang untuk hanya sekedar membeli sesuap nasi, ia dapat mengerti.

“ooyyyy…… mana si udin sama si maman??, ini barangnya dateng kenapa dia ga ada???”
“sakit bos…. meriang kata istrinya…. kalo si maman mah ngak tau kemana”
“adddoooohhhh….. udah cepet turunin tu beras…. jangan lama-lama, udah mau sore neehhh…”

Percakapan itu berlangsung di sebuah toko beras tempat kedua truk berwarna kuning itu berhenti. Tampaknya orang yang marah itu adalah sang pemilik toko. Ia kini duduk sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, hanya frustasi karena masalah yang baru saja datang.
‘hmmm…. barang kali gua bisa kerja di situ hari ini…’ batin Tomi.
Ia segera melangkah mendekati pria yang kini bangkit dari duduknya dan menunjuk-nunjuk para pekerjanya sambil sedikit berteriak.

“sore pak…..”
“ya….. kenapa dek?”
“saya liat toko bapak lagi sibuk… boleh gak saya minta kerjaan, untuk hari ini aja pak… saya belom dapet duit buat makan…” ucap Tomi.

Pria itu tertegun sejenak, wajah tampan Tomi sungguh tak menyiratkan bahwa ia adalah orang miskin yang bahkan tidak mampu membeli makanan.
“emang adek mau bantu ngangkutin beras?”
“mau pak…. gak apa-apa… yang penting saya dibayar….”
“ahhhh…. bagus-bagus… taro tas kamu di bangku sini trus kamu turunin tuh beras-berasnya…”
“baik pak..”

Dada Tomi kini bersorak. Senang sekali rasanya mendapatkan pekerjaan, walaupun hanya untuk satu hari. Ini adalah pekerjaan pertamanya dalam seumur hidup. Akhirnya….

Tas hitam kumal itu ia letakkan di atas bangku kecil di sudut tembok yang catnya sudah mengelupas. Ia melepaskan sweater yang ia kenakan lalu mulai terjun ditengah para pekerja yang sedang sibuk.

Kini, dua buah truk dengan muatan penuh itu digarap oleh empat orang termasuk dirinya. Tampaknya pekerja yang lainnya sudah lebih tua dari Tomi. Badan mereka sungguh kekar, dan terlihat terbiasa memanggul beban berat itu.
“ayo jangg……. angkutin kedalam… nanti mamang yang turunin berasnya dari atas….”
“oke mang… siap……..”

Tomi mengulurkan tangannya meraih karung pertama.
‘aaaaaarrrrrrghhh……….gila, berat juga…. hampir kayak orang beratnya…’

Dengan sekuat tenaga ia mengangkat karung beras itu dan ia letakkan di bahunya.
Ia mulai melangkah dengan cepat agar beban di pundaknya itu cepat terlepas.

Ia kini sampai di tempat penumpukan beras. Karung putih berhias gambar dua ekor ikan lele itu ia hempaskan di bagian paling atas.
Berulang kali, satu persatu, akhirnya setelah dua jam bekerja keras ia dapat menghela napas panjang.

Ia duduk menyelonjorkan kaki sambil megap-megap mencari udara.
Latihan karate yang selama ini ia jalani serasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pekerjaanya hari ini. Sungguh melelahkan.
Ia menggengam bahu kanannya dengan tangan kiri dan mulai memijat. Rasa ngilu itu kini menghantui dirinya, pegal sekali.

“nih… minum dulu dek…..” pria pemilik toko itu menyodorkan segelas teh manis hangat kepada Tomi.
“aduh pak makasih banyak… jangan repot-repot…” Tomi mengulurkan tangan menerima pemberian itu.
“masih panas…. jangan diminum dulu…..”
Tomi hanya tersenyum dan mengangguk.
“kamu dari mana emangnya? Kok kumel amat….”
“saya perantauan pak, kabur dari rumah….” Tomi mencoba berbohong.
“lha kok kabur… kenapa? Ada masalah di rumah?”
“ibu tiri saya kasar…. jadi mendingan saya kabur aja pak…….”
“ooo gitu… trus tinggal sama siapa di sini?”
“hahaha…. saya ngegembel aja pak, tidur di emperan toko….”

Pria itu hanya menggelengkan kepala dengan heran.
“pantes….” ia berucap.
“kenapa pak?” tanya Tomi bingung.
“saya tau betul, tas, sepatu, sama pakaian kamu itu bukan barang murah… makanya saya bingung, kok mau-maunya kamu kerja serabutan begini…”
Tomi tertunduk malu.
“yahh… mau gimana pak… kalo gak kerja kayak begini saya gak makan…”
“yaudah gini…. kalo kamu mau, kamu boleh ke sini kapan aja kamu butuh kerja… memang sih saya gak bisa bantu banyak, Cuma bisa kasih segini…..”

Pria itu menyodorkan selembar uang kertas berwarna hijau.
“ohhh… gak apa-apa pak… segini juga udah bersyukur saya….”
“jadi gimana? Mau kerja lagi di sini kapan-kapan?”
“ya mau lah pak…”

Pria itu terkekeh.
“jarang lho ada anak muda kayak kamu mau kerja kasar begini, apalagi kamu dulu bukan orang susah…. yang anak orang susah aja kadang-kadang manja gak mau kerja….”
“aduh jangan gitu pak… saya jadi gak enak dipuji…”
“keh..keh..keh…… kamu ini lulusan apa?”

“sarjana teknik pak….”
Mata pria itu terbelalak.
“dunia ini emang udah gila….. sarjana teknik kok jadi kuli panggul….”
“ya gak apa-apa kan pak.. yang penting uangnya halal….”

Pria itu kembali menggelengkan kepala. Ia mengerutkan dahinya sejenak kemudian bangkit.
“ehh kamu mau duit lagi gak?”
“emang ada kerjaan lagi pak?”
“sini kamu ikut saya……..”

Tomi menyeruput sedikit air teh yang sudah mulai agak dingin lalu bangkit mengikuti pria itu.
Mereka berjalan kedalam toko, lalu keluar lagi di pintu belakangnya.

“mobil saya rusak ngak mau nyala… saya belom ada waktu bawa ke bengkel… kamu bisa benerin ga”
“coba saya liat dulu pak….. bapak masuk aja ke mobil trus di stater…”

“nggggtttt…ngggtttttttt..ngggttt”
Mesin mobil itu berdecit tapi tidak mau menyala.

Tomi membuka kap mesin mobil itu, melihat berkeliling, mencari-cari sebuah kesalahan.
Tanganya dengan cekatan mengutak-atik mesin mobil itu.

“coba pak stater lagi….”
“nggtt…ngttt brrruuummmmmm…….”
Pria itu menggelengkan kepalanya sekali lagi sambil tersenyum di dalam mobil.

“bbruuuuuummmmmm…..bruuuuuuuuummmmmmmm”
Ia menginjak gas beberapa kali untuk memastikan bahwa mesin mobilnya sudah normal kembali.

“apa yang rusak dek?”
“cangklong businya karatan pak… udah berapa lama mobilnya di sini?”
“semingguan….”
“gak di kasih terpal?”
“hahaha ngak….”
“ohhh hahaha… gak apa-apa pak mobilnya, Cuma gara-gara kehujanan aja jadi koslet businya gak mau nyala semua, Cuma sebagian aja yang nyala…”

Pria itu merogoh kantung celananya, mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua.
Ia menyerahkan uang kertas berwarna merah sebanyak tiga lembar kepada Tomi.

“wuihh pak…. banyak banget….. kebanyakan ini pak…”
“ssshhhhh…. udah kamu ambil aja…. toh kalo saya ke bengkel juga kenanya segitu kok….”
“ya tapi itu Cuma di bersihin doang pak…”
“kamu anggap aja rejeki kamu dek….”

Dengan ragu-ragu Tomi menerima uang yang di sodorkan oleh pria itu.
Matanya berkaca-kaca,tidak menyangka akan rejeki yang tidak ia duga.

“udah.. yuk balik lagi ke depan, saya mau nutup toko… udah sore…”
“iya pak…..”

“sreeekkkkkkkkkk……….”
Suara rolling door yang ditarik itu terdengar ketika Tomi sedang membereskan diri. Ia telah bangkit dan bersiap untuk pamit kepada bapak pemilik toko itu.

“pak makasih banyak sekali lagi… saya pamit…”
“ohhh.. iya-iya.. jangan sungkan dek… kalo butuh kerja kamu kesini aja…”
“iya pak….”

“crekkkk….crekkkk”
Rolling door itu telah digembok oleh sang pemilik.

Tomi kembali berjalan mencari tempat berteduh untuk ia bermalam.
Hari-hari berikutnya ia datang kembali ke toko beras itu untuk bekerja. Sang pemilik dengan senang hati memberinya pekerjaan, terkadang ia memberikan sepiring nasi dan lauk untuk Tomi makan.

Masih banyak orang baik di dunia ini. Hanya saja tak banyak di temui.
Setiap keburukan akan dibalas setimpal, namun sebuah kebaikan akan dibalas berlipat ganda. Hal itulah yang kini di imani oleh Tomi.

Hari-harinya berjalan dengan tenang, ia kini punya teman. Orang-orang di toko itu menyambut baik kehadiran dirinya. Canda tawa kembali ia rasakan. Walaupun…… bukan dengan keluarganya tercinta.

Ingatannya tentang Naya sempat terlupakan ketika ia menjalani hari-hari yang melelahkan dalam pelariannya. Namun sejenak ia kembali mengingatnya.

Siang ini, Tomi sedang duduk menyantap nasi bungkus yang ia beli di warung nasi dekat toko itu.
Atap asbes yang sudah pecah disana sini menjadi satu-satunya benda yang menaunginya dari terik sinar matahari.

Ia memandang sekilas kepada tas hitam yang setia menemaninya, di dalamnya terdapat sebuah telepon seluler yang entah sudah berapa lama tidak ia nyalakan.
Sejenak ia tergoda untuk menghubungi Naya. Sudah hampir dua bulan lamanya ia berkelana, entah apakah polisi masih mencarinya. Namun niat itu kembali ia urungkan.

Malam ini ia bernaung di sebuah jembatan penyebrangan. Angin berhembus. Hawa dinginnya menusuk kulit Tomi yang hanya terlindung oleh sweater tipis yang selalu ia kenakan.
Memandang ke langit berbintang adalah hobi barunya.Namun sayang, langit hari ini mendung. Tomi hanya tertunduk dan mencoba memejamkan mata.

“hahaha…hahh…. mulus banget boooyyy….”
“bangsat….. bajingan kalian…. lepasin…”
“tenang manis…. lu gak akan nyesel… kita berdua akan bikin lu klepek-klepek keenakan….”
“heh monyet… jaga mulut lu ya……kalo ngak….”
“apa sayang….. kan emang ini kerjaan lu….. udahlah, jangan munafik… sekarang lu nikmatin aja kontol kita…..hahahahaha………”

Percakapan itu tak sengaja didengar oleh Tomi. Ia melirik jam tangannya.
Pukul sebelas malam, ternyata ia sudah tertidur sejenak tadi.

“toloonnnnnnnggg…..”
Suara itu kembali terdengar, suara seorang wanita yang putus asa mencari pertolongan.
“gak akan ada yang nolong perek macem lu Santi…… hahahah….. Beng… lu pegangin tangannya….”

Tomi segera bangkit. Mencari sumber suara itu terdengar.
Ia mulai melangkah. Suara itu terdengar dari sebuah lorong gelap diantara dua gedung bertingkat yang nyaris semua lampunya telah padam.

“jangaaaaaaaannn…………”
Teriakan itu terdengar kembali.
Tomi mempercepat langkah kakinya. Setengah berlari, suara gaduh itu semakin dekat.

ia berhenti ketika melihat siluet tiga orang yang sedang dalam pergumulan.
Salah satunya wanita. Tangannya kini digenggam erat oleh seseorang di belakangnya, sementara yang satu lagi meraba tubuh wanita itu dengan jari-jari tangannya sambil menyeringai kejam.

“breeeeekkkkkk….”
Pakaian wanita itu dirobek dengan paksa oleh pria itu, kedua payudaranya kini menggantung bebas. Jari-jari tangan lelaki itu kini mulai menyentuhnya.

“Aaaaaaaaaa………………..” wanita itu berteriak.
“hahaha….. kenapa Santi? Masa baru di grepe-grepe begini lu udah keenakan…?”

“cuiiihhhh………”
Wanita itu meludah tepat diwajah sang pria.

“plak…………..”
“perek bangsat…… berani-beraninya lu ludahin gua haa…….. lu mau mati?? Ha???”
Tamparan itu tepat mendarat di pipi kiri wanita itu.

Wanita itu mulai meringis dan menangis terisak.
Tomi masih memandang berkeliling. Mencari sebuah tongkat atau apapun yang bisa di jadikan senjata. Namun sayang ia tak menemukan apapun.

Kedua pria itu tampak lebih besar dari dirinya.
Tomi berpikir sejenak, bagaimana menyelamatkan wanita itu. akhirnya ia bangkit.

“WOOOYYY………..LEPASIN….” Tomi berteriak.
Kedua pria itu menoleh kearahnya, sang wanita itu jatuh tersungkur. Kedua tangannya kini menyilang di dada menutupi payudaranya.

“ohhh…… ada pahlawan kesiangan boyyy……..”
“hahahaaaa………bocah begini mau lawan kita? Jangan mimpi……..”
“udah ga usa lama-lama… kita habisin dulu ni bocah, baru kita garap perek itu lagi….”

Mereka melangkah maju mendekati Tomi. Tubuh mereka tidak seberapa tinggi. Tomi lebih tinggi beberapa senti dibanding mereka, namun ukuran tubuhnya sangat berbeda.

Salah satu pria itu berpostur tambun, gemuk dengan perut buncit dan kepala botak. Sedangkan yang satu lagi lebih kurus, namun perutnya sama buncit dan rambutnya gimbal.
Mereka menekan kepalan tangan dengan tangan yang lain, menciptakan bunyi gemeretak dari jari-jarinya.

Tomi sudah siap dengan semua kemungkinan. Tubuhnya sangat lelah karena seharian bekerja, ia tak tahu apakah ia dapat menang melawan mereka dengan keadaan seperti ini.
Ia mengangkat kedua tangannya kedepan dengan posisi kepalan tangan terbuka, siap untuk menangkis semua serangan yang dilancarkan kepadanya.

Melawan secara langsung kepada dua orang dengan postur tubuh lebih besar bukanlah pilihan bagus. Ia memilih untuk melawan dengan posisi bertahan.

“MATI LO BOCAAAHH…..” pria tambun itu melancarkan tinju dengan tangan kanannya.
Tomi berkelit ke kiri, meraih tangan pria itu dan menariknya ke belakang.

“Duuuunnnggg…”
Pria itu terungkur menghantam drum bekas yang berada di sebelah dinding karena momentum berat badannya yang tidak seimbang. Sementara pria yang lebih kurus mencoba menyerang Tomi.

Jangkauan tangan pria itu memang tak sejauh Tomi, namun gerakan tangannya cukup cepat karena lengannya yang tak seberapa besar.

Tomi berusaha menangkis serangan-serangan itu. salah satu pukulan itu mengenai bahunya, namun Tomi segera membalas dengan menyarangkan tinjunya ke wajah pria itu.

“duugggg……..”
Pria itu jatuh terjerembab dengan rahang yang berdarah. Salah satu giginya patah, namun Tomi juga merasakan sakit di kepalan tangannya yang beradu dengan mulut pria itu.

Buku-buku kepalan Tomi mengeluarkan darah kulitnya robek sedikit.

Wanita itu memandang ngeri melihat ketiga laki-laki yang sedang berkelahi itu.
Bibirnya gemetaran, airmatanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.

Pria tambun itu kebali bangkit. Ia menerjang Tomi dengan tubuhnya.
Tomi terhuyung kebelakang dan membentur tembok keras yang dingin.

Dengan dahinya Tomi menghantam wajah pria itu.
Pria itu terhuyung kebelakang, kemudian dengan sekuat tenaga Tomi mengayunkan kakinya kearah kepala pria itu.

“DAAAAKKKKK…..”
Sebuah hantaman keras membuat tubuh pria itu melayang sejauh satu meter. Ia jatuh terjerembab sampai berguling-guling.

Pria itu tidak bangkit lagi, hanya memegangi lehernya yang terasa sangat sakit karena beradu dengan ayunan kaki kanan Tomi.

Perhatian Tomi kini beralih kepada pria yang rahangnya berdarah.
Ia berjalan pelan mendekati pria itu.

Pria itu mundur perlahan, seperti takut untuk melawan.

Tomi melesat maju, ia menyarangkan pukulan tangan kirinya di rusuk pria itu.
“Aaaaaaaaghghhh….” pria itu tertunduk seketika.

Lalu dengan tangan kanannya Tomi mengakhiri perkelahian itu.
Sebuah pukulan sekuat tenaga ia sarangkan lagi di wajah pria itu.

“Duuuuugg….”
Pria itu jatuh terjerembab. Wajahnya membentur semen yang menjadi tempat mereka berpijak.
Kepala pria itu kini mengeluarkan darah yang menetes. Ia tidak bangkit lagi.

“hmmm….. banyak juga duit lu bocah…. oke lu bisa ambil cewe itu.. hahahaha…. gua udah dapet yang lebih bagus….”

Mata Tomi terbelalak melihat pria tambun itu sudah berdiri menggengam dompetnya.
Seketika itu ia meraba saku celananya. Benar saja dompet itu tak ada disana, mungkin dompet itu terjatuh ketika mereka berkelahi tadi.

Seluruh uang yang ada didalamnya kini berpindah tangan, digenggam kasar oleh pria tambun itu. Uang hasil kerja kerasnya.

“ANJING…. BALIKIN DUIT GUA….” Tomi berteriak.
Namun pria tambun itu melemparkan dompet Tomi jauh-jauh dan ia lari ke arah sebaliknya.

Dompet atau uang…. dompet atau uang……

Pilihan itu sangat sulit, mengingat di dompet itu terdapat kartu ATM yang berisi tabungannya.
Akhirnya ia memilih mengambil dompetnya.

Tomi menoleh kearah wanita yang ditolongnya itu. ia cantik, kulitnya putih bersih, tingginya kira-kira sebahu Tomi.
Ia berjalan berlahan kepada wanita itu sambil melepaskan sweaternya.

“nih mbak… pake aja dulu, baju mbak robek-robek……”
Tomi menyerahkan sweaternya kepada wanita itu.

“emmm…. emang agak bau sih mbak…. soalnya gak pernah dicuci… maklum, saya gelandangan….”
Wanita itu mengulurkan tangan menerima pemberian Tomi.

Sweater itu ia kenakan sementara Tomi memeriksa tubuh pria yang masih terbaring dengan kepala berdarah.

“Cuma pingsan…. ayo mbak.. saya anter pulang… sudah malam, bahaya cewek jalan sendirian” kata Tomi.
Wanita itu tetap membisu tak menjawab, ia hanya mengangguk.

Dalam perjalanan, wanita itu tetap tak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin masih shock akibat insiden yang menimpanya.

Setelah lima belas menit berjalan kaki, wanita itu mulai bicara.
“makasih ya mas…. kalo gak ada mas, mungkin saya udah diperkosa sama mereka…”
“ohhh gapapa mbak, udah kewajiban saya nolong…. ngomong-ngomong mbak kenal sama mereka?”
Wanita itu mengangguk.
“oh iya…. kenalin, saya ummm Andre…..” Tomi mencoba berbohong. Ia tak ingin ada yang mengenal nama aslinya, karena nama Andre itulah yang juga diketahui oleh teman-temannya di toko beras.
“Santi…..” mereka berjabat tangan.

“aaaawwwwwww………” Tomi memekik.
“aduh… kenapa mas?”
“emmm… ngak… gak apa-apa.. Cuma lecet…”
“mana sini saya liat……..”

Wanita itu meraih telapak tangan Tomi. Di punggung tangan itu terdapat luka robek yang cukup besar dan dalam, tampaknya diperoleh Tomi ketika meninju rahang pria itu.
“tangan mas berdarah……” ucap wanita itu lirih.
“alahhh…. biasa kok.. Cuma luka kecil….” kata Tomi.

“nanti… saya obatin dulu dirumah saya ya mas….”
“ohhh gak usah.. udah…… gak apa-apa kok mbak…”
“jangan mas….. anggap aja saya balas budi…. yang bisa saya lakuin gak seberapa dibanding pertolongan mas…..” kata wanita itu.
“beneran mbak ngak apa-apa….”
“kalo saya maksa???”

‘aduh……… jadi tengsin gua…. mana di mbak cakep banget lagi…..hadehhh……..’
“mmm… yaudah mbak……..”
Wanita itu tersenyum tipis. Manis sekali senyumnya, sedari tadi Tomi belum melihat wanita itu tersenyum.

Setengah jam mereka berjalan.
Langkah kaki mereka bergulir menuju sebuah gang yang didalamnya terdapat kontrakan berderet yang agak kumuh.

Pintu kontrakan itu terbuka. Hanya ada satu kamar di dalamnya, dapur, ruang tidur, ruang tamu, semua menjadi satu. Hanya kamar mandi kecil berukuran 1×1 meter yang terlihat disekat. Dinding-dinding ruang kamar itu sudah mulai berjamur, catnya mengelupas, dan plafonnya juga sudah bolong disana-sini.

“rumah saya jelek mas…. jangan malu ya…”
“halah mbakk….. masi untung punya tempat tinggal… saya tuh kalo gak di kolong jembatan, ya di emperan toko tidurnya….”
“ahhh… bohong…. masa cowo seganteng mas….ups…”

Mereka tiba-tiba diam seribu bahasa.
“eeeeehhh..emm….. mau minum apa mas? Biar aku buatin… mas pasti haus…” kata Santi gelagapan.
“ohhh..emm…ahhh iya mbak… air putih aja… jangan repot-repot…” Tomi pun tak kalah salah tingkah dibuatnya.

Santi mengambil gelas dan menuangkan air dari ceret allumunium berwarna kuning.
Kemudian air itu disodorkan kepada Tomi.

“minum dulu mas Andre….” ucapnya.
Santi segera bangkit dan membelakangi Tomi. Sweater lusuh itu ia lepaskan, lalu ia letakkan kedalam ember yang berisi air.

“ehh mbak….. sweaternya kok dibasahin….”
“ohhh…. biar saya cuciin dulu mas…. udah kotor banget, biar kalo mas mau pergi besok pagi udah bersih…..”
“yaaahh…jangan mbak… gak usah repot-repot….. tadinya saya mau pergi sekarang…”

Santi menoleh tanpa membalikkan badannya.
“yahhhh….. maaf mas uda terlanjur basah nih…. aduh… maaf banget mas…”
“yaudah mbak gak apa-apa… nanti biar saya peres aja….”
“udah mas nginep aja dulu disini…. jangan sungkan….”
“ihhh mbak…. gak enak lah…. nanti kalo diliat tetangga mbak, bisa salah paham…”

Santi mengambil handuk dan melilitkan ketubuhnya yang terbalut pakaian robek.
Ia meraih ember tempat sweater Tomi lalu membawanya masuk kedalam kamar mandi.

“mas Andre tenang aja….. tetangga di sini semuanya temen saya….mereka malah lebih sering bawa lelaki”
“mm…maksudnya……”

“klek….”
Pintu kamar mandi itu menutup.

“yah…. mas mungkin tadi udah dengar dari dua orang itu…. saya ini dulunya pelacur…”
Santi berbicara dari dalam kamar mandi yang bagian atasnya tidak sepenuhnya tertutup. Tembok kamar mandi itu hanya setinggi dua meter, menyisakan ruang setengah meter di atasnya yang menyatu dengan ruang utama.

“umm…. maaf mbak.. bukan maksud saya nyinggung masalah itu….”
“mas malu ya….. kalo pagi-pagi keluar dari rumah pelacur….” ucap Santi lembut sambil mengguyur tubuhnya dengan air.

“ihhhh mbak… jangan pake kata-kata itu ahh…. gak enak di dengarnya…”
“kata-kata yang mana?”
“ituu……….” Tomi mulai gemas.
“pelacur…??”
“SSssssshhhhhh….. masih aja disebut ah…. jangan gitu mbak…”
“ohhh… hihihi….. tapi itu kan kenyataannya… dulu saya memang cewe kayak begitu…. tapi sekarang udah ngak….”
“ohhh….. bagus kalo gitu mbak…..sekarang kerja dimana?”
“jadi pelayan warung pecel lele…”
“ohhh.. pantesan pulangnya malem…”

“byurrr…byurrr…”
Siraman demi siraman terdengar. Mereka masih melanjutkan percakapan mereka.

Tak lama, Santi keluar dari kamar mandi. Handuk biru itu melilit tubuhnya yang langsing.
Sangat indah…..sangat sexy…. semok…..ahhhh…. pesona itu…oooohhhh

‘stoooppppp……….. jangan berpikir yang ngak-ngak, tenang Tom tenang….’ batin Tomi. Seketika penis Tomi mulai menegang melihat pemandangan itu. membuat ukuran celananya seakan mengecil dua nomor.

Butir-butir air yang masih menempel di kulitnya yang putih bersih, tanpa noda sedikit pun. Rambut hitamnya yang tergerai lembut di bahunya. Wajahnya yang begitu cantik ketika mata wanita itu terpejam.

‘sss….sstoooopp…stooppp…….. alamak….kenapa jadi keras begini…’
Keringat dingin mulai keluar di tengkuknya. Desir nafsu yang sudah hampir dua bulan ia pendam kini meluap-luap.

“kenapa mas?”
“engg….engak-engak…. udah mbak pake baju dulu… gerah saya liatnya…”
“ohhh..hahaha….. kirain apa… mas kalo mau mandi, pake aja kamar mandinya…”
“b-boleh mbak?”
“ya boleh lah…. masa mandi aja gak boleh…”

‘hufff……. selamet… ini si junior udah berontak..’
Tomi hanya tersenyum. Ia kini mengaduk-aduk tas hitamnya. Mencari sehelai baju yang masih bersih untuk ia pakai.

Tomi memang jarang mengganti baju walaupun ia mandi setiap hari di WC umum.
Maklum lah… ia hanya memiliki tiga stel baju yang ia bawa di dalam tas itu. hanya satu kali seminggu ia mencuci baju-bajunya yang sudah kotor. ‘hemat sabun’ pikirnya.

Ia melangkah, meninggalkan Santi yang tubuhnya masih terbalut handuk. Santi saat itu sedang mencari-cari pakaian untuk ia kenakan dari dalam lemari kecil sehingga ia harus membungkuk membelakangi Tomi yang lewat.

‘what a damn ass…….’ batin Tomi.
Ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Berusaha membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedari tadi hinggap dalam angannya.

“crekk..”
pintu kamar mandi yang terbuat dari alumunium itu tertutup.

Kini Tomi sudah berada di dalam ruang sempit itu. sebuah ember diletakkan di atas sebuah WC jongkok. Tempatnya berdiri sungguh sempit sekali. WC itu memakan setengah ruang yang terdapat didalamnya.
Dinding-dinding kamar mandi itu jauh lebih buruk dari tembok yang berada diruang utama. Tak hanya jamur, namun juga lumut hijau tebal menyelimuti sudut-sudutnya. Berbeda sekali dengan kamar mandi dirumah mewahnya dulu.

Ia segera menanggalkan pakaiannya satu persatu, lalu ia sangkutkan di deretan paku yang menancap di dinding.

“byurrrrr……..byuurrr……”
Air yang menyiram tubuhnya terasa begitu dingin. Mengingat saat itu sudah lewat tengah malam. ‘juniornya’ yang sedari tadi tegak menjulang, kini meringkuk lesu kedinginan.

‘akhirnya……. tenang juga nih si Tomi jr.’

Dinginnya air membuat Tomi tak ingin berlama-lama didalam kamar mandi. Ia segera menyelesaikan mandinya dan mengenakan pakaian kembali.
Kali ini Tomi mengenakan kaus putih yang sebenarnya sudah tidak putih lagi. Beberapa bercak noda terlihat disana sini karena ia pakai bekerja.

Ia melangkah keluar kamar mandi. Badannya bergetar, ia menggigil kedinginan.
Seandainya saja sweaternya tidak basah, mungkin ia akan kembali mengenakan sweater bau itu agar tidak kedinginan.

“dingin ya mas airnya?”
‘Damn shit…. baju tidurnya…… my god, she’s damn sexy’
Darah di kepala Tomi mulai berdesir kembali. Dipandangan matanya, Santi kini mengenakan dress tanpa lengan berwarna pink yang cukup tipis, sehingga mata tomi dapat menerawang dan melihat pakaian dalam yang dikenakan oleh Santi.

“i-iya….brrrrr…… gak biasa mandi malem soalnya”
“ohhh…..sini, duduk samping Santi biar ‘anget’…”
“ehh…. iiiisshhh… mbak jangan gitu ah… gak enak saya…”
“hihihi…. kenapa? Takut digodain sama aku ya?”
“bukan gitu….hiiiiii dingin banget……….” Tomi mendekapkan kedua tangannya merapat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kehangatan diri yang masih melekat.

“udah mas gak usah malu-malu gitu… kan kita Cuma ‘berdua’……”
“justru itu…… saya…emm….. takut hilang kontrol…hahahahaha….”
“udah gak usah segitunya…. sini…” Santi menepuk kasur kapuk tempatnya duduk.

Dengan senang hati… ehh…… dengan berat hati Tomi akhirnya menurut.
Mereka kini duduk bersebelahan. Santi mengambil selembar selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka.

“mbak tinggal sendirian? Keluarga mbak kemana?”
“ha.?? Ohhh…. pada mencar-mencar semua mas…. kalo orang tua udah ngak ada…”
“ups… maaf mbak.. ngak maksud…”
“iya…udah ga usah minta maaf segala…..”
“kamu sendiri kenapa hidup gak karuan gini?”

Mereka mulai bercakap-cakap membicarakan tentang diri mereka. Tomi menceritakan cerita bohong bahwa ia kabur dari rumah, seperti biasa. Sedangkan Santi mulai bercerita tentang dirinya.

Ia lahir dalam keluarga yang serba kekurangan, ayahnya sudah meninggal sejak ia masih berumur lima tahun, sejak itu ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Menghidupi keluarga yang terdiri dari satu ibu dan tiga orang anak.

Santi adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya adalah perempuan.
Kehidupan mereka sebelumnya sangat normal. Walaupun terbentur berbagai keterbatasan, namun semuanya cukup normal. Mereka bisa makan, Santi dan adik-adiknya bisa bersekolah. Bereka bahagia. Sampai suatu hari, ibu Santi sakit keras.

Saat itu Santi baru saja lulus dari bangku SMA.
Tabungan yang selama ini dikumpulkan oleh ibunya, seketika itu ludes. Habis tak bersisa untuk biaya pengobatan (lhooo kok kayak agen asuransi ini narasinya… hadehhh).
Keharusan untuk tetap bertahan hidup, untuk membiayai pengobatan ibu dan biaya sekolah adik-adiknya kini menjadi beban yang dipikul oleh gadis berumur 18 tahun saat itu.
Ia segera mencari pekerjaan kesana-kemari.

Sampai pada suatu hari, Santi memutuskan untuk ‘menjual diri’.
Saat itu Santi sedang bekerja di sebuah agen sembako. Pekerjaan itu dijalaninya dengan ikhlas, walaupun memang hasilnya sangat pas-pasan. Pengobatan ibunya terhenti. Ibunya memberi amanat untuk mendahulukan pendidikan kedua adiknya.
Dilanda stress yang mendalam, bos pemilik agen itu menawarkan bantuan.
Santi dijanjikan akan diberi uang sebesar sepuluh juta rupiah, dengan syarat…. memberikan keperawanannya.

Sejak saat itulah kehidupan Santi berubah, ia lebih suka menjajakan tubuhnya demi mendapatkan uang.

Air mata mulai membasahi wajahnya yang sembab. Tampak berat sekali bagi Santi untuk menguak luka masa lalunya itu. sungguh kenyataan yang tak bisa disesali, bahwa setelah ia memiliki banyak uang, ternyata ibunya juga tak dapat tertolong.

Tomi menggengam jemari Santi untuk sekedar menenangkan wanita itu dari kelamnya kenangan masa lalu.

Genggaman itu dibalas dengan kuat oleh Santi.
Wanita itu merapatkan tubuhnya kepada Tomi. Menyandarkan kepalanya dipundak seorang laki-laki yang baru ia kenal.

Tomi tak kuasa menolak. Ia menaruh simpati yang besar kepada Santi yang kini sudah terlepas dari belenggu prostitusi dan kembali ke jalan yang lebih baik.

Harum aroma rambut Santi merebak. Memanjakan hidung pria manapun yang mencium aroma itu. Tomi membelai rambut wanita yang masih terisak di bahunya.
Lengan Santi kini memeluk perut Tomi. Entah mencari kehangatan di tengah udara dingin, ataukah mencari sebuah ketenangan dalam lindungan sesosok mahkluk bernama laki-laki.

Isak tangisnya mulai mereda. Namun dekapan tangan Santi semakin erat memeluk tubuh Tomi.
‘ohh god…….. her breast…”

Pikiran Tomi mulai melayang-layang entah kemana.
Hangatnya tubuh Santi yang mendekapnya erat membuat penisnya kembali berdiri.

Santi mendongak, memandang wajah laki-laki yang sedang di dekapnya erat-erat.
Pandangan mereka bertemu.

‘lepasin mata gueee……..lepasin mata gue……….’
Aroma nafasnya begitu menggairahkan. Tomi dapat dengan jelas mencium aroma pasta gigi yang digunakan oleh Santi. Aromanya segar, menggugah selera.

Kedua bibir mereka semakin dekat. Hangat nafas itu kini dapat Tomi rasakan dengan jelas. Kembusannya, aromanya. Bibir mereka kini hanya satu milimeter jauhnya.

Semakin dekat…… akhirnya bibir mereka bersentuhan satu sama lain.
Dilanda nafsu yang memuncak, Tomi dengan kesadarannya yang masih tersisa, sekuat tenaga berusaha melawan gejolak birahi yang menguasai pikirannya.

Lengan Santi yang mendekap erat pinggan Tomi, entah kapan sudah berada di pundaknya.
Kedua bibir mereka kini berhimpitan. Santi mengeluarkan lidahnya, menyapu bibir Tomi dengan sebuah jilatan penuh makna.

‘what everr……….damn she’s so sexy….’
Tomi membalas dengan menjilat lembut bibir Santi bagian atas. Lidah mereka kini bertemu, berdansa dalam tarian yang seakan tak akan berakhir.

Perlahan, posisi mereka mulai berubah. Dengan tangan yang merangkul leher Tomi, Santi menarik dirinya merebah, menghempaskan tubuh Tomi dalam lembah kenikmatan dekapan seorang wanita.

Payudara Santi yang cukup besar itu kini menghimpit dada Tomi.
Santi membuka pahanya lebar-lebar, membiarkan tubuh Tomi merapat lebih dekat. Ia menjepit pinggang Tomi dengan kedua pahanya, sementara ciuman mereka semakin memanas.

Dengan sebelah tangan, Tomi membelai rambut Santi. Memberi khayalan akan kenikmatan yang sekarang membuai angan wanita itu terbang menjauh.

Sapuan lidah Tomi kini merambah lehernya yang jenjang.
Kulit Santi yang putih bersih membuat nafsu Tomi makin memuncak.

Ia bagai terhipnotis oleh bayangan erotis yang memenuhi otaknya.
“mmmmmmhhhhhh……….” Santi melenguh pelan. Sapuan lidah itu mengenai bagian dirinya paling sensitiv. Lidah Tomi kini menyapu bagian bawah telinganya.

Kedua tangan Santi kini menyelusup dibawah kaus putih yang dikenakan Tomi. Membelai lembut punggung laki-laki itu. Desir aliran darah dirasakan oleh Tomi. Ciumannya kini menuruni leher jenjang wang wanita yang dimabuk asmara.

Perlahan sapi pasti, tiap inci lekuk dada wanita itu tak ada yang luput dari sapuan lidah Tomi.
Mata Santi terpejam. Ruangan itu kini dipenuhi oleh aroma birahi dari kedua insan yang sedang mabuk asmara. Asmara sesaat, namun cukup untuk menaikkan suhu ruangan itu beberapa derajat.

Dengan kedua tangannya, Santi menarik kaus putih yang dipakai Tomi melewati kepalanya.
Memamerkan dada Tomi yang kini mulai berotot, perutnya yang mulai kekar. Santi merasakan dengan seksama, tiap inci lekuk tubuh lawan mainnya itu.

“mmmhh…mas….” ia menggumam, Santi kini menggigit bibir bagian bawahnya yang berwarna merah muda.

Tak mau kalah. Jemari Tomi kini menjelajahi lekuk tubuh sang wanita. Menenterpresikan gambaran akan indahnya bentuk tubuh ideal seorang wanita. Rabaan itu kini mengusap lembut bongkahan payudara yang tak sanggup ia genggam.

Santi mengambil alih dominasi permainan. Tanpa dikomando ia melepaskan gaun tidur tipis yang ia kenakan. Lekuk tubuhnya kini hanya terhalang oleh bra dan celana dalam minim yang masih melekat.

Tomi kembali memeluk wanita itu. menyelusupkan jemarinya diantara kasur dan punggung sang gadis. Dengan cekatan, jemari itu melepas kait bra yang dikenakan Santi dengan mudah.
Perlahan, Tomi menarik ambang batas yang menghalangi wajahnya dengan bongkahan payudara utuh milik Santi.

Sapuan lidah Tomi semakin liar. Seakan lapar akan lekuk tubuh wanita.
Ia melahap bongkahan payudara itu dengan rakus. Dimulai dari kedua sisinya, memutar sampai ke atas, dan berakhir pada tonjolan kecil berwarna senada dengan bibir Santi.

Lidah Tomi seakan menemukan cinta sejatinya, ia melumat habis puting payudara yang mengeras itu. jilatan, hisapan, kuluman, bahkan gigitan kecil, semua yang dapat Tomi lakukan telah ia laksanakan.

“hhhhaaaaaahh…aaaaaaahhhhh…..mas Andre…Aaaaahhhh”
Santi memanggil pria yang ia kenal dengan nama itu.

Cukup lama bermain diatas bukit kembar itu, lidahnya kini menjelajah kebagian bawah tubuh Santi. Mengeksplorasi tiap jengkal tubuh yang sebentar lagi akan memberinya kenikmatan.

Dengan kedua tangannya Tomi menarik dengan lembut celana dalam yang dikenakan Santi. Lipatan vagina berwarna kemerahan yang jarang ditumbuhi rambut itu siap menerima apapun yang dilakukan oleh Tomi.

Tomi memulai kembali aksinya dengan gerakan yang lembut. Lidahnya tanpa sifat agresif menjelajahi lipatan-lipatan vagina Santi. Seakan membalik halaman buku dengan jari, lidah Tomi menyeruak masuk diantara lipatan vagina itu, menari-nari diatas titik super sensitiv dari diri seorang wanita.

“AaaaaaaHhhhh… mas….Aaaahh….enak mas……Teeruuuuss….MMMmmmhhh..”
Jemari tangan Tomi mulai bergerak, menyusuri tubuh Santi bagian samping, mulai dari pinggang, rusuknya, hingga ketiaknya.

Santi mengarahkan kedua tangannya keatas. Memberi jalan kepada sepasang tangan yang memberinya kenikmatan. Jemari Tomi kini mendarat kembali diatas bukit kembar yang sudah mengacung.

‘empukk gila…….kenyal………mmmmmhhhhh………’
Dengan gemas, Tomi memainkan puting payudara Santi dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Puting itu terselip rapat diantara sepasang jari yang mulai memilin dan menghimpitnya. Sementara telapak tangan Tomi menikmati tiap detik kelembutan yang dirasakan kulit tangannya yang kini agak kasar.

Santi mendekap sepasang tangan Tomi dengan kedua tangannya. Membimbing jemari Tomi untuk meremas lebih kuat, lebih kasar, lebih liar.

“Aaaaahhhh…Aaaaaaaaahhhh…..mmhhaaaassss….Aaa aahhh….”
Kelopak mata santi terpejam erat. Tekanan pada punggung tangan Tomi semakin menguat.

“AAAAaaaaaaakkhh………….aaaaaahhhhhhh”
Tiba-tiba kepala Tomi dijepit kuat oleh kedua paha Santi. Menandakan orgasme pertama wanita itu telah diraihnya.

“m-masss…. nakal yahh….. bikin aku keenakan….”
Santi kini telah membuka mata. Menatap wajah Tomi lekat-lekat.

Cairan kenikmatan yang menyembur dari vaginanya kini membasahi bibir Tomi.
Santi mengulurkan tangan, ia bangkit. Telapak tangan lembut itu menyentuh pipi kiri Tomi. Santi mendekatkan wajahnya dan mulai menjilati cairan vaginanya yang tersisa di wajah Tomi.

Lidah kedua insan itu kembali bertautan, sementara jemari tangan Santi mulai meraba tonggak kejantanan milik Tomi. Dengan cekatan ia melepaskan mahkluk buas itu dari sangkarnya.

Daging kenyal itu kini menjelma menjadi tiang pancang nan kokoh.
Santi mendorong perlahan dada Tomi. Mempersilahkan tubuh lelaki itu merebah.

Celana jeans yang dikenakan Tomi mulai ditariknya perlahan hingga terlepas, begitu juga dengan celana dalamnya. Kini, tak ada lagi yang dapat menghalangi lidah Santi untuk beraksi.

Sapuan pertama telah mendarat di kepala penis berbentuk jamur itu.
‘gila…. gede juga…’ batin Santi, sesaat ia menelan ludah.

Bibirnya yang merah merekah kini terbuka lebar. Mempersilahkan benda panjang nan keras itu untuk menyeruak memasuki mulutnya.

“sluuurrppp”
Santi menghisap kuat sambil mengangkat kepalanya perlahan. Seakan menyedot seluruh nyawa yang ada dalam tubuh terlentang itu.
Ketika bibirnya telah mencapai kepala penis itu, ia kembali melesakkan batang tegak itu kedalam mulutnya.

Tak mampu menelan seluruhnya, lidah Santi meliuk-liuk dalam rongga mulutnya.
Tomi tak kuasa membuka matanya. Kelopak mata itu terkatub rapat-rapat, satu-satunya reaksi yang nampak pada dirinya hanyalah desahan nafasnya yang mulai memburu.

Tak kuat menahan keinginan untuk segera merasakan kejantanan itu, Santi menyudahi aktiitasnya. Ia segera naik dan menduduki pinggang Tomi.

Badan Santi kini membungkuk, ia mengangkat pinggulnya agak tinggi sambil memegang penis Tomi. Jemari itu membimbing tonggak kenikmatan yang sebentar lagi akan mengeksplorasi vagina miliknya.

“Sssssreett…..”
“Aaaaaaaaa….aaahhh….”
Penis itu tenggelam seluruhnya dalam liang kenikmatan Santi.
Santi diam, belum bergerak sedikitpun. Hanya jemari tangannya yang menarik telapak tangan Tomi untuk singgah di payudaranya yang membusung. Ia masih membiasakan diri dengan penis yang baru kali ini ia rasakan.

Perlahan, pinggulnya mulai bergerak memutar.
Mata Santi terpejam, begitu juga dengan Tomi. Entah apa yang mereka bayangkan, namun raut wajah penuh kenikmatan itu tak mampu berbohong.

Dengan kedua tangannya, Tomi mulai meremas payudara Santi. Menemani tubuh wanita itu yang mulai bergerak naik turun melayani penisnya.

“Aaaaahhhh…Aaaaaahhhh…..Aaaahh….”
Desahan penuh kenikmatan itu tak mampu dibendung oleh bibir tipis sang wanita yang kini menggerakkan tubuhnya. Santi menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat dada Tomi yang bidang.

Perlahan tapi pasti, gerakan keduanya mulai berubah. Dari lembut, menjadi liar… dari liar, menjadi beringas…
Kedua insan itu telah dirasuki oleh birahi yang tak terbendung lagi.

Santi menggenjot tubuhnya sejadi-jadinya. Vagina kemerahan itu menagih untuk dimasuki lebih dalam lagi. Lebih cepat lagi…
“Aaaahhh……Shitttt……….masss…….aaahh.. …” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang kini terbuka.

Santi menghujamkan penis Tomi sedalam mungkin, mengejar kenikmatan yang hampir diraihnya lagi.
“gilaa…….aaaahhhhhhh…..mas…..enak banget……mmmmhh…”

Tomi menghentakkan pinggulnya naik turun. Beban berat tubuh sang gadis seakan tak menjadi penghalang baginya. Tubuh langsing sang gadis melompat-lompat. Area kelamin mereka berhimpit dengan keras, menciptakan bunyi kecipak bagai genangan air yang dilalui sepasang langkah kaki.

“creekkk….creekkk…creeeekk….”
“mmmaasss..maa…sss…..aku….keluaaarrrr……. .”
Cairan hangat menyembur di sela organ intim mereka yang masih bergesekan.

Beberapa detik kemudian Santi jatuh dalam pelukan pangeran cintanya malam ini. Tubuh itu lemas, tak kuasa menahan amukan orgasme yang baru ia rasakan.

Tomi merebahkan tubuh wanita itu kesamping. Ia bangkit dan mulai mengambil alih arah permainan. Penisnya sudah menagih untuk digesekkan kembali kedalam liang vagina itu.

“ssreeet….”
“Aaaahh………” Santi memekik pelan.
“mmmmmhhh….memek kamu enak banget mbak……Ahhhh…Aahhh…”
Tomi berusaha mengatur napas disela gerakannya. Penis itu menghujam dalam, gerakan itu cukup cepat untuk membuat wanita manapun tak mampu menahan desahan dalam mulutnya.

“mmmaasss….ahhh…entotin San…tii…..teruss mas… ahhhh….ahhh….” ceracaunya.
Santi yang sudah lemas tak bisa berbuat banyak untuk mengimbangi permainan Tomi. Ia hanya diam, membiarkan Tomi menikmati tiap jengkal tubuh indahnya.

Lima menit berselang, mereka berganti posisi.
Santi merubah posisinya yang terlentang menjadi menelungkup tanpa melepaskan penis Tomi dari cengkeraman vaginanya. Santi mengangkat pinggulnya, ia kini berlutut membelakangi Tomi.

Tomi menrangkul pinggang Santi dengan lembut. Tubuh sintal itu mulai bergerak perlahan, maju mundur dengan irama stabil.

“mmppphh….” gerakan perlahan itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi Tomi.
Gemas dengan ritme yang pelan, namun nikmat.

Tomi merasakan penisnya mulai berkedut. Darah yang mengalir di arterinya memaksa batang penis itu mengeras sempurna.

‘aarrrghhhhh… gila… gua udah ga tahan….’ batin Tomi.
Jemari tangan Tomi yang merangkul pinggang Santi kini meraih kedua payudara Santi yang menggantung.

“sllleeeeppp…sleeepp….”
Tomi menghentakkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Menghujamkan penis itu kedalam vagina Santi.
“aaaaahhh… mm—mas… pelan-pelan……ahhhhhh…

Author: 

Related Posts

Comments are closed.