Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 42

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 42by on.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 42My HEROINE [by Arczre] – Part 42 Act 3: YOU ARE MY HEROINE OPENING #Pov Narator# BLAAARRRRR! Kolonel Reditya melemparkan lagi granat di tangannya. BLAARRRRR! Robot-robot itu berhamburan. Mereka model G-120, gampang dirusak daripada model terbaru mereka G-414. Robot, siapa pun mereka tak ada perasaannya. Kolonel Reditya dengan berani segera menembakkan senapan otomatisnya ke robot-robot […]

My HEROINE [by Arczre] – Part 42

Act 3: YOU ARE MY HEROINE

OPENING

#Pov Narator#

BLAAARRRRR!

Kolonel Reditya melemparkan lagi granat di tangannya.

BLAARRRRR!

Robot-robot itu berhamburan. Mereka model G-120, gampang dirusak daripada model terbaru mereka G-414. Robot, siapa pun mereka tak ada perasaannya. Kolonel Reditya dengan berani segera menembakkan senapan otomatisnya ke robot-robot itu.

ZATATTATTAATA!

“Pisang!? Kamu ada di mana? Bagaimana generatornya?” tanya Kolonel Reditya.

“Arghh! Brengsek! Aku sudah masuk, di dalam tambah seru Kolonel. Mau ikut?” jawab Flavus di alat komunikasi.

“Kolonel, musuh makin banyak! Segera hancurkan generatornya! Kita tak punya waktu,” ujar Elmo di alat komunikasi.

“Bicara itu enak Mo!” Kolonel Reditya pun terus menembaki robot-robot itu walaupun rasanya percuma. “Fuck, I’m out! Pisang!? Kamu sedang coli di sana?”

“I’m working!” seru Flavus di alat komunikasi.

Sementara itu robot-robot terus berdatangan dan mulai mengepung Kolonel Reditya. Salah seorang robot pun sudah ada di depannya, Reditya menerjangnya tapi sang robot terlalu kuat dan mencengkeram lehernya. Reditya tercekik.

“PISAAAANNNGG!” teriak Kolonel Reditya.

BLAARRR

Terdengar suara ledakan. Tiba-tiba seluruh robot kehilangan daya dan mereka pun ambruk ke tanah semua. Kolonel Reditya terjatuh dan terbatuk-batuk.

“I’m done!” kata Flavus.

Kolonel Reditya berdiri dengan sempoyongan. Dia mengambil senapannya dan berjalan menuju ke sebuah bangunan yang ada di dekatnya. Pintu pun terbuka, muncullah seorang lelaki berseragam militer sama seperti Kolonel Reditya. Dari dalam ruangan itu pula mengepul asap. Kolonel Reditya menepuk pundak Flavus.

“Hei Flavy, kamu baik-baik saja?” tanya Elmo di alat komunikasi.

“Elmo, di mana lagi generator seperti ini ada?” tanya Kolonel Reditya.

“Masih banyak kolonel. Kita sendiri baru menghancurkan tiga generator,” jawab Elmo. “Total masih ada 343 generator seperti ini lagi di seluruh pulau Jawa dan Madura. Tapi daerah ini sudah kita kuasai. Robot-robot itu tidak akan bangun lagi. Semoga saja mereka tak akan memperbaiki generatornya.”

“Semoga saja, tapi kita juga tak boleh meremehkan mereka. Selama para penduduk di daerah ini mau bekerja sama….,” kolonel Reditya tak melanjutkan kata-katanya. Flavus menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahi. “…maaf, iya mereka semua sudah dibantai. Tak ada sisa. Maaf.”

“Aku tunggu kalian di pos,” kata Elmo di alat komunikasi.

Reditya dan Flavus berjalan meninggalkan tempat generator itu. Generator itu adalah salah satu pos pemancar untuk menggerakkan robot melalui signal-signal khusus. Apabila pemancar itu hancur, maka sebagian robot-robot itu akan mati. Begitulah cara kerjanya. Hal ini baru diketahui oleh mereka beberapa waktu lalu. Mereka berdua berjalan selama beberapa puluh menit hingga sampai di sebuah perkampungan setelah melewati jembatan gantung yang tidak nyaman karena selalu bergoyang-goyang ketika mereka berjalan di atasnya.

Perkampungan ini sepi, sepertinya para penduduk telah mengungsi entah ke mana. Ketakutan di mana-mana, ancaman di mana-mana. Yang bisa dilakukan oleh para penduduk adalah mengungsi ke tempat yang aman. Sawah-sawah ditinggalkan, kebun-kebun ditinggalkan. Kolonel Reditya yang sudah tiga minggu semenjak Presiden mengumumkan menjadi penguasa dunia mulai terbiasa makan dari hasil kebun yang ditinggalkan. Ia tak kesulitan tentu saja, negara ini adalah negara yang kaya. Di sawah-sawah pun masih ada ketela yang bisa dimakan.

Mereka pun masuk ke sebuah rumah. Di dalamnya tampak Elmo yang sedang mengutak-atik komputer dan laptopnya.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Elmo.

“Buruk, aku kekurangan peluru. Kita butuh peledak C4 lagi,” kata Kolonel Reditya.

Flavus kemudian ambruk di atas sebuah sofa, “Aku capek. Kolonel, saya ijin tidur dulu.”

“Silakan, lagipula kita sudah dua hari tidak istirahat. Elmo, tetap cari gelombang radio yang kira-kira meminta bantuan, atau dari para pemberontak!”

“Siap!”

“Kabarnya beberapa hari lalu Penjara Besi dibobol?” Kolonel duduk di sebelah Flavus yang sedang berbaring di atas sofa. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Dan mulai menyalakan rokok itu.

“Superhero dengan armor gila yang memporak-porandakan Jakarta dulu itu. Sepertinya ia bukan orang jahat,” ujar Elmo.

“Kukira begitu, semoga dia bisa menjadi sekutu kita,” kata Kolonel Reditya. “Kalian istirahatlah, besok kita jalan lagi!”

Reditya pun bersandar di sofa. Ia menoleh ke Flavus yang sudah mendengkur dengan tubuh tengkurap. Perlahan-lahan Elmo pun mencari tempat untuk bersandar di sofa yang ada di seberangnya. Sekalipun tidur, sejatinya mereka siaga, terbukti dari pistol mereka yang sudah siap untuk ditembakkan. Walaupun sejatinya tahu mereka tak akan mampu membunuh robot-robot itu dengan peluru biasa.

Ingatannya kembali menerawan ke hari di mana dia mulai memberontak. Dia saat itu menyaksikan bagaimana empat monster Titan keluar dari bumi. Kemudian disusul pula seorang superhero membuat kehancuran dengan memporak-porandakan Jakarta. Tak hanya itu pernyataan presiden di gedung MPR/DPR telah menyulut kemarahannya. Presiden yang harusnya ia lindungi ternyata membuat kejutan seperti ini. Entah apa yang ada di pikiran orang nomor satu di Indonesia itu.

Sekalipun begitu ada saja kelompok masyarakat yang mendukung sikap presiden itu, apalagi setelah bom nuklir meledak di Amerika. Rasanya tak ada negara yang berani melawan Indonesia sekarang ini. Bahkan setiap pesawat dan kapal yang diterjunkan untuk menerobos pertahanan Indonesia sudah pasti ditumbahkan oleh monster Titan.

Dia pun mulai memberontak saat itu. Tentu saja dengan dua orang kepercayaannya.

******~o~******

JREG! JREG! JREG!

Terdengar suara dari luar rumah. Kolonel Reditya pun terbangun. Ia langsung membangunkan kedua anak buahnya. Flavus terbangun dan mengucek-ucek matanya. Reditya memberi isyarat agar mereka tak berisik. Segera ia melihat keluar jendela. Tampak robot-robot berbaris rapi sedang menyusuri jalan. Mereka tipe G-414.

“Bukannya mereka harusnya mati?” bisik Elmo.

“Yang kita hancurkan adalah generator untuk menghidupkan G-120, bukan G-414. Jangkauan mereka lebih jauh. Dan, mereka mempunyai artileri berat,” jawab Kolonel Reditya sambil berbisik. Terlihat robot-robot itu membawa senjata yang lebih besar.

Mereka bertiga pun kembali sembunyi duduk kembali di lantai. Suara langkah kaki ratusan robot itu pun masih terdengar hingga kemudian menghilang. Kolonel Reditya kembali melongok ke jendela.

“Mereka sudah pergi, kita juga, ayo!” Reditya memberikan instruksi kepada anak buahnya.

Mereka bertiga segera mempacking barang bawaan mereka. Elmo memasukkan laptopnya ke ransel. Ketiganya menenteng senapan mereka walaupun magazinenya sudah habis. Mereka pun keluar diam-diam dari rumah itu lalu berlari secepatnya ke jalan raya. Hari sudah mulai gelap ketika mereka bertiga berlari meninggalkan rumah tersebut. Baru saja mereka berlari beberapa meter di depan mereka tiba-tiba ada sorot lampu terang menyala.

“What the fuck!?” Kolonel Reditya terkaget-kaget.

Belum sempat rasa kagetnya hilang, tiba-tiba sorot lamput itu menjadi banyak. Lebih dari sepuluh, mungkin belasan.

“Para pemberontak, kalian diperintahkan untuk tembak di tempat!” kata suara itu. Robot militer.

“Shit! G-414, lari!” seru Flavus.

Ilustrasi G-414

Mereka pun berlari zig-zag, karena G-414 membawa senjata khusus. Senjatanya adalah busur dan panah yang terbuat dari laser beam. Dengan berlari zig-zag mereka bisa membuat robot-robot itu tak bisa fokus membidik. Panah-panah pun berhamburan. Kolonel Reditya terus berlari. Mereka pun melihat jembatan gantung yang merek lalui.

“Kolonel…..!” seru Flavus.

“Terjun! Tak ada cara lain!” kata Kolonel Reditya.

“Laptopku???!” teriak Elmo.

“Lupakan, kita bisa beli baru,” kata Reditya.

“Beli? Di negara perang seperti ini? Ayolah kolonel…”

Reditya pun berbelok ke samping jembatan gantung dan menjatuhkan diri ke bawah. Ke sungai yang arus airnya lumayan deras. BYUURRR! Mereka bertiga berusaha untuk mengambil nafas lalu pasrah ketika arus sungai membawa mereka. Robot-robot itu pun berhenti. Seolah-olah sudah kehilangan buruannya mereka pun kembali lagi ke tempat mereka semula.

Kolonel Reditya dan kedua anak buahnya sudah menepi setelah hanyut beberapa ratus meter. Mereka bertiga lalu ambruk di atas rumput dan merayap menepi. Nafas mereka terengah-engah. Elmo langsung melepas ranselnya. Bawaannya benar-benar berat.

“Great! Sekarang kita harus ke mana lagi?” tanya Elmo. “Peralatan kita basah. Laptopku…huuaaaa…!”

Flavus menepuk-nepuk pundak Elmo. “Daripada kamu dicincang oleh mereka?”

“Aku lebih suka dicincang oleh mereka daripada laptopku rusak!” ujar Elmo.

“Sudahlah, kita cari tempat untuk sembunyi sekarang. Sambil mengeringkan laptop-laptop itu,” kata Reditya.

“Kolonel, lihat!” Flavus menunjuk ke sebuah arah. Tampak dari kejauhan ada seorang rumah penduduk yang lampunya menyala.

“Ada yang masih hidup di daerah ini?” gumam Elmo

“Sepertinya bukan, ini daerah seberang sungai. Mungkin para robot tak menyerang tempat ini, ayo!” Reditya segera bangkit lalu berlari-lari kecil menuju ke rumah itu. Kedua anak buahnya pun menyusul, senapan yang mereka bawa masih ditenteng dan dengan posisi membidik. Walaupun sebenarnya percuma saja menembak, karena tak ada pelurunya.

Mereka pun akhirnya sudah dekat dengan rumah tersebut. Mereka pun berjalan mengendap-endap hingga kemudian mengintip dari jendela. Di dalam rumah tampak beberapa orang anak kecil sedang makan dengan lahap. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu yang menyala di tengah ruangan. Reditya, Elmo dan Flavus berpandangan. Mereka tak melihat ada orang dewasa di rumah ini.

Tiba-tiba sebuah bayangan menendang perut Elmo. Elmo yang mendapatkan serangan mendadak itu langsung memegangi perutnya. Kolonel Reditya ditarik kerah bajunya dan dia mendapatkan siku lengan, dan Flavus mendapatkan pukulan bertubi-tubi di dada dan perut hingga ia pun ambruk. Sebelum Kolonel Reditya mengambil pistolnya, bayangan itu sudah menempelkan sebuah pisau melengkung di lehernya.

“Siapa kalian?” tanya orang yang menyerang mereka bertiga. Dia adalah Han Jeong.

“Whoa…whoa..sabar! Kita teman, kenapa kalian malah menyalakan cahaya, robot-robot itu bisa datang kapan saja,” kata Kolonel Reditya.

“Kalian pemberontak?” tanya Han Jeong.

“Iya”

“Buktinya?”

“Kalau kami bukan pemberontak, sudah dari tadi kami mendobrak pintu itu”

Han Jeong lalu melepaskan Reditya. “Maaf”

Elmo bersusah payah bangkit, disusul juga Flavus. Mereka bertiga mengerang kesakitan. Han Jeong membungkuk.

“Kamu siapa?” tanya Kolonel Reditya.

“Aku Han Jeong, Black Knight. Saya sudah mencari kalian selama ini,” jawab Han Jeong.

“Hah? Black Knight?”

“Kalian tak perlu khawatir robot-robot itu akan menyerang kami, karena sebagian besar mereka telah ditarik ke daerah lain. Kita aman di sini,” kata Han Jeong.

“Bullshit! Kamu jangan bohong! Black Knight itu adalah produksi M-Tech!” kata Kolonel.

“Aku adalah cucu Faiz Hendrajaya. Kita sama-sama melawan pemerintahan sekarang. Aku sedang mengumpulkan kekuatan,” kata Han Jeong. “Ayo masuk!”

“Cucu Faiz Hendrajaya?” Reditya mengerutkan dahi.

“Iya, aku anaknya Hiro Hendrajaya dengan Jung Ji Moon,” jawab Han Jeong.

“Oh, begitu,” gumam Reditya.

“Ah, aku ingat Putra Nagarawan mengatakan kalau orang di balik Black Knight adalah Faiz Hendrajaya pemilik M-Tech, sekarang katanya ia dipenjara, bukan?” kata Elmo sambil berjalan mengikuti Han Jeong masuk ke dalam rumah.

Mereka masuk ke rumah. Para anak-anak yang sedang makan sedikit kaget, tapi mereka meneruskan makan lagi ketika melihat Han Jeong.

“Di mana orang tua mereka?” tanya Reditya.

“Sebagian tewas, sebagian hilang. Aku menemukan mereka ketika sedang mencari kolong-kolong perlawanan. Tapi kalian adalah orang pemberontak pertama yang aku temui,” kata Han Jeong. “Ayo ikut makan bersama kami, kalian pasti lapar?”

“Yah, daripada tidak. Ayo!” kata Reditya.

Mereka pun meletakkan seluruh peralatan mereka. Elmo juga mengeluarkan laptopnya dan mulai mengeringkan laptopnya. Flavus pun akhirnya ikut makan bersama anak-anak itu. Tampaknya hari ini mereka bakal beristirahat di tempat ini untuk sementara waktu.

Ilustrasi Elmo

Ilustrasi Flavus

Ilustrasi Reditiya

**********o***********
Sementara itu Presiden Putra Nagarawan sedang berada di sebuah ruangan yang luas. Di tengah ruangan itu ada sebuah lubang besar menganga. Dia melongok ke dalam lubang itu. Gelap. Dia kemudian mengambil koin dari dalam sakunya dan melemparkannya ke dalam lubang itu. Astarot berdiri di sampingnya sambil melongok ke bawah juga. Koin itu jatuh ke bawah, makin lama makin cepat sesuai dengan kekuatan gravitasi, hingga kemudian jatuh di sebuah batu. Batu itu pun menyala seperti api yang membakar. Koin itu pun tenggelam ke dalam batu itu.

GRRRRRRRRR!

Seketika itu terdengar bunyi yang menyeramkan dari bawah sana. Bumi bergetar. Fasilitas itu juga ikut bergetar.

“Dia siap untuk keluar,” kata Astarot.

“Iya, tapi belum saatnya,” kata Putra Nagarawan. “Aku ingin mengeluarkannya pada pertempuran terakhir.”

“Pertempuran terakhir?”

“Kamu pasti tahu alasan kenapa aku membangun ini semua”

“Iya, cita-citamu yang aneh itulah yang membuatku mendukungmu. Bukan berarti aku tidak suka, tapi apa yang bisa aku berikan kepada sahabatku?”

“Sembilan hari sudah kita lalui dan seluruh dunia bertekuk lutut kepada kita. Kita tinggal menikmati pertempuran terakhir.”

“Kau ini sinting sebenarnya. Membuat seluruh dunia memusuhimu”

“Aku telah berjanji kepada ibuku, satu-satunya orang yang aku cintai. Janji ini tak akan pernah berubah. Astarot, kamu melakukan ini karena kamu suka bukan? Aku tak memaksamu untuk pergi.”

“Terima kasih, tapi aku tidak akan pergi. Aku akan melihat semuanya sampai akhir.”

Putra Nagarawan berbalik dan menepuk pundak Astarot. “Kamu kalau beruntung akan melihatku berada di puncak. Aku tidak pernah menyesal melakukan ini semua. Rasa keadilan ini harus aku balaskan. Seluruh hidupku dalam ketidak adilan, mereka yang telah merampas kehidupanku sekarang aku telah melihat bagaimana mereka mengemis kepadaku.”

Putra Nagarawan meninggalkan Astarot sendirian. Astarot lalu mengambil sebatang rokok yang ada di sakunya lalu mulai menyalakannya. Korek apinya ia masukkan lagi ke dalam sakunya. Ia mengambil nafas dalam-dalam sambil melihat lubang besar yang ada di depannya. Melihat semua ini solah-olah ia merasa kehancuran dunia sudah berada di depan mata.

Tiba-tiba ia teringat tentang cerita Putra Nagarawan. Cerita tentang masa lalunya yang kelam. Semuanya berawal dari pertemuan Thomas van Bosch dengan seorang wanita bernama Cibi. Di sanalah semuanya berawal.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.