Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 37

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 37by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 37Pendekar Naga Mas – Part 37 Di luar gua mereka berdua menyembunyikan diri, tampaklah bayangan manusia berkelebat, secara beruntun muncul dua puluhan orang dari balik semak belukar. Dengan cepat mereka dapat mengenali kalau orang-orang itu adalah kawanan jago kalangan hitam yang pernah menyatroni rumah makan Jit-seng-lau beberapa hari berselang. Kenyataan ini membuat mereka berdua makin […]

xGSzKdMW29 xiiuNNovEu XZJEKfsdzWPendekar Naga Mas – Part 37

Di luar gua mereka berdua menyembunyikan diri, tampaklah bayangan manusia berkelebat, secara beruntun muncul dua puluhan orang dari balik semak belukar.

Dengan cepat mereka dapat mengenali kalau orang-orang itu adalah kawanan jago kalangan hitam yang pernah menyatroni rumah makan Jit-seng-lau beberapa hari berselang.
Kenyataan ini membuat mereka berdua makin terkesiap.
Diam-diam Siau-si mencoba menghitung jumlah mereka.
“Kwan-tiong-ji-ok (dua manusia jahat dari Kwan-tiong), Tiang-pek-sam-him (tiga beruang dari bukit Tiang-pek), Im-san-siang-kiam (sepasang pedang dari Im-san), Yau-san-su-sat (empat malaikat dari Yau-san) … ah, masih ada lagi perempuan cantik itu beserta beberapa orang kakek berbaju hitam, nampaknya pertarungan sengit tak terelakkan lagi.”

Kedua puluhan jago itu segera menyebar di sekitar gua setelah tiba di tempat itu, apalagi ketika mendengar suara bergeseknya daging dan dengusan napas memburu yang bergema dari dalam
gua.

Sambil tertawa dingin perempuan cantik itu berkata, “Kebetulan sekali! Sekarang Manusia penghancur mayat sedang berbuat begituan dengan budak itu, cepat kia terobos masuk ke dalam gua dan meringkus mereka berdua!”

Suto bersaudara mendengus dingin, tiba-tiba mereka muncul dari tempat persembunyian dan berdiri menghadang di depan mulut gua.

Seorang kakek berbaju hitam segera merangsek maju, pedangnya langsung ditusukkan ke dada Siau-bun dengan jurus serangan yang aneh.

Siau-bun mendengus dingin, tanpa menggeser barang selangkah pun dia mengayunkan tangan kanannya ke depan, sebuah pukulan langsung dihantamkan ke tubuh orang itu.

Belum lagi telapak tangannya tiba, desingan angin tajam telah menyambar duluan.
Kakek berbaju hitam itu sadar akan kelihaian lawannya, buru-buru dia menebaskan pedangnya dengan jurus serangan dari ilmu pedang pengejar nyawa.

Tampak tubuhnya bergerak bagaikan bayangan setan, cepatnya bukan kepalang.
Dari perubahan jurus serangan yang dilakukan lawan, Siau-bun sadar tenaga dalam musuh cukup tangguh, dia segera menarik tubuhnya sambil berputar ke samping, kemudian secepat sambaran petir sepasang tangannya melepaskan serangan secara bertubi-tubi.

Segulung angin pukulan bagai gulungan ombak di tengah samudra meluncur tiba dengan cepat, dikurung oleh serangan yang amat dahsyat, permainan pedang kakek berbaju hitam itu jadi makin melamban dan tercecar.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian tampak bayangan hitam berkelebat, kakek berbaju hitam itu menjerit kesakitan sambil mundur tiga langkah dengan sempoyongan, belum lagi berdiri tegak, darah segar sudah menyembur keluar dari mulutnya.

Siau-si memburu ke depan, dia berniat menambahi lagi dengan sebuah pukulan untuk mencabut nyawanya, mendadak terdengar bentakan keras, si pukulan lembek Yu Bun-poh sudah maju sambil melepaskan pukulan.

Siau-bun segera berkelit ke samping, lalu melayang ke samping.
Yu Bun-poh sama sekali tak bersuara, kembali tubuhnya merangsek maju, tangan kanannya menghantam ke wajah Siau-bun sementara tangan kirinya membabat ke bahu kanan.

Menyusul kemudian tangan kanannya berganti membabat ke samping, sementara tubuhnya berputar menyelinap ke sisi kanan nona itu.

Suto Bun tertawa dingin, tidak nampak tubuhnya bergerak, secepat kilat tangan kanannya sudah membabat ke depan.

Yu Bun-poh sadar, bila gadis itu menduduki posisi di atas angin maka dia akan menjadi bagian
yang kena dihajar, cepat badannya bergeser, kini dia mengembangkan ilmu pukulan Pat-kwa-yusin-ciang yang ampuh.

Tampak tubuhnya bergerak secepat petir, sebentar melayang bagaikan hembusan angin, sebentar maju sebentar mundur, jurus serangan dilancarkan susul menyusul.

Untuk sesaat Suto Bun terbelenggu oleh gerakan tubuh lawan dan tak mampu berbuat banyak.
Sesaat kemudian dia himpun segenap kekuatannya ke dalam tangan, lalu telapak kirinya dibabatkan ke tubuh Yu Bun-poh yang sedang menubruk datang.

Tidak menunggu musuhnya melancarkan jurus tandingan, badannya merangsek maju lebih ke
depan, tangan kanannya membabat ke dada lawan dengan sepenuh tenaga.

Serangan berantai yang dilakukan gadis itu meski agak lemah dalam hal kekuatan, namun mendatangkan manfaat yang besar untuk menanggulangi gerakan tubuh Yu Bun-poh yang lincah.

Seketika itu keampuhan Yu Bun-poh terhambat, dia tak bisa lagi bergerak selincah naga sakti.
Siau-bun pun memutar badan mengikuti gerakan serangan, pukulan demi pukulan dilontarkan
berurutan.

Sepeminuman teh kemudian hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Suto Bun, tiba-tiba dia mengeluarkan ilmu pukulan Cing-li-im-ciang.

Serangan yang dilancarkan kali ini menggunakan tenaga lunak, bukan saja lembek, bahkan langsung mengendalikan gerak serangan lawan.

Sudah empat puluh tahun lebih Yu Bun-poh meyakinkan ilmu pukulan itu, selama malang melintang di dunia persilatan belum pernah ia jumpai musuh setangguh hari ini.

Diam-diam ia menggigit bibir, jurus serangannya kembali berubah, kini dia mengandalkan keras untuk melawan keras.

Siau-bun mendengus dingin, sekali lagi gerak serangannya diubah.
Waktu itu kebetulan Yu Bun-poh sedang mendorong sepasang tangannya dengan sepenuh tenaga, Siau-bun segera memutar badannya setengah lingkaran, lalu sambil menekuk pinggang, tangannya ditalakkan ke dada musuh.

Angin pukulan yang menderu pun seketika menyapu ke tubuh lawan.
“Ah!” serangan Yu Bun-poh patah di tengah jalan, dengan tubuh berlumuran darah buru-buru dia berjumpalitan menjauh.

Kegemparan segera terjadi dalam kerumunan jago-jago itu.
Yau-san-su-sat langsung menubruk ke arah Siau-bun tanpa menimbulkan sedikit suara pun. “Jangan membokong orang!” hardik Siau-si mendadak, sepasang tangannya langsung dihantamkan ke depan dan mengancam tubuh keempat orang itu.

Merasakan betapa dahsyat dan kuatnya ancaman yang tiba, Yau-san-su-sat terkesiap, cepat mereka menahan kembali gerakan tubuhnya.

Si bayangan setan segera melolos golok bergelangnya, pemuda tampan pembetot sukma melolos ruyung, jago pengejar sukma mencabut senjata Boan-koan-pit, sementara iblis wanita
berwajah kemala mencabut pedangnya.

Serentak empat orang dengan empat macam senjata meluruk ke tubuh Siau-si.
Menghadapi datangnya ancaman itu, Siau-si menggetarkan pedangnya, dengan jurus burung merak pentang sayap, terlihat bianglala putih berkelebat.

Traang!”, bentrokan nyaring segera bergema memecah keheningan, tampak tubuh keempat orang itu bergetar keras dan masing-masing mundur dengan sempoyongan.

Bagi seorang ahli, begitu bertarung segera akan ketahuan berisi atau tidak. Yau-san-su-sat adalah pentolan kalangan hitam di wilayah gunung Yau-san, kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang sudah amat tersohor di dunia persilatan.

Siapa tahu dengan kemampuan mereka berempat yang begitu hebat ternyata tak mampu melukai pihak lawan, sebaliknya malah dipukul mundur oleh musuh, kejadian itu kontan membuat para jago yang hadir di situ terkesiap.

Siau-si tahu, biarpun mereka berhasil menduduki posisi di atas angin, namun demi keselamatan Cau-ji yang berada dalam gua, mereka perlu membasmi musuh secepatnya.

Maka secara diam-diam ia telah menyalurkan hawa murni Bu-siang-sin-kangnya di balik jurus pedang, berbareng dia pun menggunakan ilmu pedang Ciu-thian-sin-kiam andalan keluarganya
untuk menghabisi lawannya.

“Sreet, sreet, sreet!”, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan, semuanya diarahkan ke tubuh keempat orang itu. Yau-san-su-sat tercecar hebat, tubuh mereka mundur berulang kali.

Di tengah pertarungan, kembali terdengar Siau-si membentak nyaring, dimana cahaya tajam berkelebat, sebuah babatan kilat membuat lengan kiri si bayangan setan terlepas dari tempatnya, sementara iga kanan si jago pengejar nyawa terluka parah.

Sambil menjerit kesakitan kedua orang itu mengundurkan diri dengan sempoyongan.
Melihat itu Kwan-tiong-ji-ok segera maju menerjang sambil mengayun senjatanya, kawanan iblis lain pun serta-merta ikut maju mengembut.

Kembali terdengar dua kali jeritan kesakitan bergema di angkasa.
Perlu diketahui, Yau-san-su-sat memang bukan tandingan Siau-si kendatipun mereka melawan dengan sepenuh tenaga, tak heran begitu mereka kehilangan dua orang anggotanya, kedua orang yang tersisa tak sanggup menahan diri.

Secara beruntun Siau-si melancarkan serangkaian serangan mematikan, dengan jurus Sengliong-ing-hong (menunggang naga menggiring burung hong) dia tangkis cambuk Toh-ming-longkun, kemudian ujung pedangnya ditusukkan langsung ke dadanya.

Tak sempat lagi menghindarkan diri, Toh-ming-long-kun menjerit kesakitan dan roboh terkapar.
Pada saat bersamaan Sim-lojit belum sempat mencapai permukaan tanah ketika Siau-si dengan
jurus Ji-yan-shia-hui (burung walet terbang ke samping) telah membabat ubun-ubun Giok-lo-sat ini hingga terbelah jadi dua.

Tiba-tiba terasa desingan angin tajam datang dari arah belakang, cepat Siau-si mengegos ke kanan, saat itulah sepasang pedang Im-san-siang-kiam telah menyambar dari sisinya.

Baru lolos dari tusukan sepasang pedang Im-san-siang-kiam, Kwan-tiong-ji-ok telah menyusul tiba, menyusul kemudian ada belasan orang jago ikut mengembut.

Dengan gigih dua bersaudara Suto memberikan perlawanan, sekalipun tiada tanda-tanda akan kalah, namun mereka sudah dipaksa makin menjauhi mulut gua.

Menggunakan kesempatan itu, dua orang segera menyelinap masuk ke dalam gua.
Waktu itu Cau-ji masih berbaring di lantai sambil dinaiki Siang Ci-ing yang cantik dan menawan, coba kalau kejadian ini berlangsung di saat lain, betapa bahagianya anak muda itu.

Bukan cuma bertarung habis-habisan melawan si nona, paling tidak dia pasti akan meremas-remas dan menghisap sepasang buah dadanya yang montok itu.

Sayang suara pertarungan yang berlangsung di depan gua telah mengusik konsentrasinya, sekalipun dua bersaudara Suto tidak menunjukkan gejala kalah, tapi seleranya kontan hilang, kini dia hanya bisa menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia.

Coba kalau bukan dia sedang mengobati racun obat perangsang yang mengendon dalam tubuh Siang Ci-ing, mungkin sejak tadi Cau-ji sudah menerjang keluar gua dan menghabisi kawanan iblis itu.

Pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar ada suara lirih bergema di dalam gua menyusul dua orang berbisik lirih, Cau-ji tahu pasti ada orang sedang menyusup masuk, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya.

Dia pun berlagak seolah-olah tidak tahu akan kehadiran mereka berdua, sementara sepasang tangannya masih meraba dan meremas sepasang payudara yang putih montok, diam-diam tenaga dalamnya dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya, ia berencana menghajar mampus kedua orang musuhnya begitu mereka muncul di depan mata.

Benar saja, tak lama kemudian terlihat dua orang menyusup masuk ke dalam ruangan, mereka
langsung tertawa menyeringai begitu melihat ada sepasang muda-mudi sedang bergumul dengan serunya.

Tanpa banyak bicara mereka langsung mengayunkan keempat telapak tangannya dan membabat tubuh anak muda itu.

Diam-diam Cau-ji mendengus dingin, sebelum keempat belah tangan lawan menyambar tiba, tenaga pukulan yang telah disiapkan sejak tadi itu langsung didorong ke muka.

“Aduh! Aduh!”, dua kali jeritan pilu bergema.
“Blum!”, hancuran badan bercampur percikan darah segar segera berhamburan ke mana-mana.
Biarpun orang-orang yang berada di luar gua tidak menyaksikan sendiri bagaimana hancuran daging dan percikan darah berhamburan, namun jeritan ngeri yang begitu memilukan diiringi suara benturan yang menakutkan cukup memberi kesan betapa dahsyat dan menakutkannya tenaga pukulan Manusia pelumat mayat.

Kontan perempuan cantik dan beberapa orang kakek berbaju hitam itu pecah nyali dan ketakutan setengah mati, tak kuasa serentak mereka berseru, “Cepat kabur!”

Tanpa membuang waktu lagi mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Kawanan jago lainnya yang menyaksikan kejadian itu serentak balik badan dan ikut melarikan diri dengan tergesa-gesa.

Dalam waktu singkat kawanan manusia itu sudah lenyap dari pandangan.
Dua bersaudara Suto menghembuskan napas lega, setelah menyarungkan kembali pedangnya, cepat mereka berlari masuk ke dalam gua.

Setelah melalui dinding gua yang kotor karena percikan darah dan hancuran daging, akhirnya mereka jumpai Cau-ji sedang duduk bersila di tengah ruang gua dengan senyum dikulum.

Pertarungan sengit yang barusan berlangsung telah menguras sebagian besar tenaga dalam kedua orang itu.

“Enci Si, enci Bun” sambil tertawa Cau-ji menegur, “apakah mereka sudah kabur?’
“Adik Cau, mereka sudah pecah nyali setelah menyaksikan kedahsyatan tenaga pukulanmu, bahkan saking takutnya sempah menyumpahi orang tua sendiri kenapa hanya memberi dua kaki saja, tentu saja orang-orang itu sudah kabur semua,” sahut Suto Bun sambil tertawa.

“Hahaha, ternyata mereka cukup tahu diri, kalau tidak, pasti akan kuhancur lumatkan tubuh mereka semua.”

Sementara itu Suto Si sedang memperhatikan Siang Ci-ing yang masih bermandikan keringat sambil menggerakkan tubuh bagian bawahnya dengan hebat. Keluhnya sambil menghela napas, “Sungguh dahsyat daya kerja obat perangsang ini!”

“Adik Cau,” kembali Suto Bun bertanya, “apakah kondisi badan enci Ing masih memungkinkan untuk berlanjut?”
“Siaute sendiri pun tak tahu bagaimana harus berbuat,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir.

Dari dalam sakunya Suto Si mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang dua butir pil yang harum baunya, kemudian ia buka mulut Siang Ci-ing dan menjejalkan pil itu ke dalam mulutnya.

“Cici,” kata Cau-ji lagi sambil tertawa getir, “menurut kalian, sampai kapan ia baru menghentikan gerakan tubuh erotiknya?”

“Cau-te, dalam masalah seperti ini rasanya hanya kau sendiri yang lebih tahu, masa kau malah bertanya kepada kami berdua? Aneh.”

Cau-ji menggeleng.
“Cici,” katanya, “kalau begitu kalian beristirahatlah lebih dulu!”
Kedua gadis itu tahu, dengan anak muda itu sebagai pelindungnya, mereka dijamin aman tenteram tak kekurangan sesuatu apa pun, maka dengan perasaan lega kedua orang nona itupun mulai mengatur pernapasan.

Melihat kedua orang nona itu sudah mulai bersemedi, Cau-ji pun memasang telinga dan mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, setelah yakin sepuluh li di seputar sana tak ada orang, dengan perasaan lega dia mulai menggerayangi kembali sekujur badan Siang Ci-ing.

Memang harus diakui, Siang Ci-ing yang berasal dari keturunan orang kaya benar-benar pandai memelihara badan.

Bukan saja kulit tubuhnya putih mulus, lembut dan licin, ditambah lagi ia berlatih silat sejak kecil, badannya nampak sangat kencang dan menggiurkan.

Makin meraba Cau-ji merasa hatinya tambah gatal, napsunya makin berkobar, bahkan ‘barang’
miliknya mulai berdiri tegak. Coba kalau bukan sedang melindungi Suto Bun berdua yang sedang bersemedi, niscaya dia sudah melancarkan jurus serangan bombadir yang kencang ke lubang surga milik gadis itu.

Dengan susah payah akhirnya Suto Bun selesai juga dengan semedinya, ia membuka matanya
yang indah dan menatap anak muda itu sambil tersenyum.
Cau-ji tahu, sekarang dia sudah bebas tugas dan tak periu lagi menjadi pelindung keselamatan
kedua gadis itu, tanpa banyak membuang waktu lagi dia segera membalikkan badan, menindih
tubuh Siang Ci-ing dan mulai menusukkan ‘benda’nya ke dalam lubang lawan.
Sudah hampir dua jam lamanya pemuda itu harus bersikap tegang dan kuatir, maka begitu mendapat kesempatan baik saat ini, seketika dia mulai melancarkan serangkaian serangan gencar.

Tak selang beberapa saat kemudian dari dalam gua berkumandanglah suara gesekan yang nyaring, bertubi-tubi dan menggetarkan sukma.

Suara gesekan yang menggetarkan sukma seketika membuat sekujur tubuh Suto Si terasa panas sekali, apalagi setelah menyaksikan tubuh bugil yang sedang bergumul dengan sengitnya, kontan gadis ini merasa bibirnya jadi kering.

Apalagi saat itu dia sedang berdiri di belakang Cau-ji yang sedang “bergumul”, setiap kali pemuda itu mencabut atau menghujamkan kembali “tombak panjangnya dari liang Siang Ci-ing, ia dapat mengikuti semuanya secara jelas.

Terlihat dengan jelas ‘dua belah bibir pintu luar liang milik Siang Ci-ing yang ditusuk oleh ‘tombak panjang”, berulang kali ‘melumat’ dan ‘menyembur’, sementara titik darah bercampur
cairan putih meleleh keluar tiada hentinya dari lubang bagian bawah dan membasahi sebagian
bulu yang lebat.

Ketika dibasahi cairan putih bercampur darah, bulu yang warnanya memang hitam terlihat makin bercahaya dan mengkilap.
Tanpa sadar Suto Si mulai menggerayangi tubuh bagian bawah sendiri dan menggosoknya berulang kali. Tak lama kemudian dengus napas Siang Ci-ing mulai memburu, diiringi suara napas ngos-ngosan gadis itu mulai merintih dengan nyaring,
“Oh … oh … uh … ah … ah … aduh… aduuh … lebih keras… ah…
Mengikuti teriakan-teriakan itu, sekujur badannya gemetar makin keras.
Melihat anggota badannya meronta tiada hentinya, Cau-ji jadi panik, buru-buru dia kempit sepasang kakinya dengan lengan kemudian sambil menekan pinggangnya, ia mulai menggempur secara ganas.

Tiba-tiba lubang surga Siang Ci-ing terasa menghisap kencang, begitu kencang isapan itu membuat ‘batang tombak’ nya seolah terbelenggu kencang, liang gua yang semula sempit pun
tiba-tiba terasa jauh lebih longgar dan lebar.

Sambil menggenjot terus, diam-diam ia mulai memperhatikan keadaan Siang Ci-ing, tampak seluruh wajah dan rambut nona itu sudah basah oleh keringat, paras mukanya yang semula merah pun kini bertambah pucat, sadarlah pemuda ini, si nona telah menghabiskan banyak tenaga untuk goyangannya tadi.

Terlihat gadis itu memejamkan mata dengan sepasang bibirnya sebentar membuka sebentar menutup, sekulum senyum kepuasan tersungging di ujung bibirnya, ini membuktikan kegetiran
yang semula dicicipi kini telah menghasilkan madu yang manis.

Dia merasa ‘tombak panjang’ miliknya seakan direndam dalam termos kecil yang dipenuhi air panas, mulut termos terasa kencang dan sempit, tapi bagian dalamnya lebar dan hangat.

Ketika tombak panjangnya masuk keluar, ia dapat merasakan isapan yang kencang tapi nikmat, sedemikian nikmat hingga membuatnya berkeinginan untuk ‘kencing’, tak kuasa lagi dia bersorak kenikmatan.

Apalagi liang dasar termos itu begitu dalam dan kering, mengikuti setiap goyangan pinggung Siang Ci-ing selalu membuat ujung tombaknya seolah terbentur keras, kenikmatan yang dirasakan waktu itu sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tak kuasa lagi dia pun ikut bergoyang dan menggenjot makin kencang.
Dua bersaudara Suto yang menonton dari samping tak kuasa menahan diri lagi, api birahi mulai membakar sekujur tubuh, membuat kedua gadis ini kegerahan, haus dan… ‘kepingin’!

Lama kelamaan mereka tak sanggup menahan diri lagi, satu per satu baju mereka tanggalkan, tak selang beberapa saat kemudian kedua gadis ini sudah telanjang bulat.

Dalam keadaan seperti ini, Suto Bun seolah lupa dengan pernyataannya tadi, lupa kalau ia sudah berjanji tak akan memberi “bantuan”.

Kedua orang itu sembari mengempit tubuh bagian bawahnya, sambil menahan rasa gatal yang
tiba-tiba menyerang liang mereka, menonton jalannya pertarungan itu dengan mulut membungkam.

Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat Siang Ci-ing mulai merintih berulang kali, sekujur
badannya mulai lemas tak bertenaga, sambil tertawa cekikikan Suto Bun mengambil handuk kecil, lalu mulai menyeka keringat yang membasahi jidat Cau-ji.

Dengan gerakan lembut Cau-ji membaringkan tubuh Siang Ci-ing ke lantai, tubuh bagian bawahnya masih menempel ketat, dia merasa ‘tombak panjang’nya masih terisap kencang di dalam ‘termos kecil’ itu, bukan cuma tergencet, bahkan terasa bagaikan diisap dengan kencangnya.

Tak terlukiskan rasa nikmat yang dirasakannya waktu itu, jauh lebih nikmat ketimbang bermain di nirwana, bahkan nyaris memaksa tombaknya muntah.

Coba kalau bukan pada saat yang bersamaan Cau-ji menangkap sinar kelaparan yang terpancar dari balik mata Suto bersaudara, ingin sekali pemuda itu melampiaskan semburan cairannya ke balik liang hangat gadis itu.

Terlihat Siang Ci-ing menghela napas kepuasan, anggota badannya direntangkan santai, lalu sambil tersenyum terlelap tidur.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.