Cerita Sex Tepian Hati – Part 26

Cerita Sex Tepian Hati – Part 26by on.Cerita Sex Tepian Hati – Part 26Tepian Hati – Part 26 Bibirnya?? Dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus pendek? tubuhnya yang cukup tinggi dengan tubuh yang terlihat begitu kuat? Atau karena si konyol ini perlahan demi perlahan mulai menunjukan potensi dirinya? Dia baru saja terpilih masuk sebagai pemain inti di tim sepakbola kampus, calon ketua ikatan mahasiswa kampus, dia punya kemampuan untuk […]

Tepian Hati – Part 26

Bibirnya?? Dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus pendek? tubuhnya yang cukup tinggi dengan tubuh yang terlihat begitu kuat?

Atau karena si konyol ini perlahan demi perlahan mulai menunjukan potensi dirinya?
Dia baru saja terpilih masuk sebagai pemain inti di tim sepakbola kampus, calon ketua ikatan mahasiswa kampus, dia punya kemampuan untuk memimpin, kemampuan berbicara yang baik dan integritas, sesekali tingkahnya konyol, namun selalu dapat membuat orang lain tertawa tapi disisi lain juga mampu membuat orang lain percaya bahwa, kita bisa melakukan apapun yang kita mau, selama kita berusaha, bisa dikatakan dia mampu menjadi motivator yang begitu hebat.

Dan sekarang aku duduk di bangku belakang motornya, memang tidak memeluknya karena kami tidak berpacaran, dia tak pernah memacu kendaraanya dengan cepat saat memboncengku, berbeda dengan kedewasaan semu yang biasa ditampilkan lelaki seusia-nya saat bersama orang yang disukainya, selalu ingin menunjukan sisi hebatnya. Tapi tidak dengannya, dia selalu ingin menunjukan inilah aku, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dan tau apa tingkahnya yang paling konyol?? Ya saat dia menyatakan cintanya padaku. Dengan berlagak seperti pemain piano berpakaian tuxedo dengan alat berat yang mengangkat panggung tempat dia berada. Dimana dia menembakku? Di sebuah taman bunga di daerah cipanas, di antara hamparan bunga dia berada diatasku, memainkan piano classicnya. melodi chopin di malam hari yang begitu romantis, cahaya lampu yang menyorot kami berdua dengan Apa ya yang aku suka dari dirinya saat itu??

Senyumannya lembut, hamparan bunga berwarna merah yang tersorot indah oleh lampu hingga memantulkan warna indah yang berbeda, ditambah lagi air mancur yang menari cantik. mungkin tidak..

Dia sesaat berdiri membawa sebuah bucket bunga mawar yang begitu indah, menghentikan permainan pianonya menunggu panggung kecil tempatnya berdiri itu turun dihadapanku. Dia tersenyum berjalan mendekat, berlutut dan memberikan bucket bunga itu padaku. Senyumannya begitu manis sebelum bibirnya berucap kata-kata itu.

” Kamu mau? Kamu mau jadi milikku selamanya, mencintai aku sebesar aku mencintai kamu, menjadi api yang mengusir dingin dihatiku, menjadi oksigen yang menghidupi api cintaku, menjadi rembulan yang menyinari malamku ”

Semuanya menjadi begitu manis, romantis dengan segala yang dilakukannya selama ini. tak mudah untuk menaklukan hati. Kesabaran dan rasa cinta yang meluluhkan kekeras kepalaan itu. Meluluhkan rasa takut itu, dan aku akhirnya mengucapkan kata-kata itu.

” Koq kamu sudah gak main piano, tapi masih ada suarannya ?? ” tanyaku sambil tertawa..

Dia terlihat kaget dan langsung melirik ke kanan dan ke kiri, sebelum kemudian menatap tajam kearah Jack dan Ryan yang tertawa-tawa setelah berhasil mengerjai Edison.

” wah parah nih.. ” Edison terlihat mati gaya, gerak tubuhnya kikuk, sebelum kemudian menahan tawa.. Dia menggaruk kepalanya sambil kembali berlutut.

” sory ya, jadi gini ketauan dech bohongnya.. ” katanya sambil tertawa.

” ga koq, bukan karena mereka juga tau, soalnya asal suaranya dari belakang bukan dari kamu.. Hahaaa ” jawabku pelan

” hmmmm.. Aduh jadi gimana ya ?? Yawda dech.. ” dia meminta tanganku sambil berlutut, ” shall we dance ?? ” tanyanya.

Aku mengangguk, dia berdiri menyambut tanganku dan…

Kucium pipinya, wajahku terasa panas menahan rasa malu, sementara dia kembali menampilkan wajah kikuknya, sebelum tertawa dan kemudian memelukku.

##
” aku beli sepatu ini aja ya?? ” tanyanya sambil menunjukan sebuah sepatu bola berwarna ungu bermerk nike.

” coba aja dulu, kamu suka modelnya ? ” tanyaku meyakinkan

” suka sih, ini mirip yang dipake cristiano ronaldo.. Skillnya ma aku kan 11 – 12 ” jawabnya sambil tertawa

” kePDan kamu.. ” jawabku malas

” yawda aku beli ini ya.. ” dia memanggil pelayan toko dan meminta sepatu ukuran 42.5

” warna ini lebih bagus dech.. ” aku menunjuk yang warna orange, sepatu sejenis dengan yang dimintanya tadi.

” tumben kamu suka warna itu baru tau, aku suka yang warna ungu aja biar kamu ga minjem ” dia terkekeh sendiri.

” ich kemana aja coba, dah setahun kita jalan masih aja ga tau… ” celetuk-ku, sementara pelayan membawakan sepatu untuknya dan Edi langsung mencoba dan kembali meminta pendapatku, sebelum dia membayar sepatu itu setelah aku mengiyakannya.

” Makan dulu yuk, ada tempat makan baru buka diatas.. ” katanya mengajakku, perutku pun kebetulan terasa sedikit lapar.. ” makan yang padat aja sekalian ya, jamnya udah tanggung ” jawabku

” hmm iya, makan korea gitu kayaknya.. Mau ya coba.. ” aku mengangguk mengiyakan mengikutinya naik ke lantai atas dan memasuki restaurant ala korea itu.

” jadi kita pergi ke pulau apa tuh namanya ?? ” tanyaku disela mengunggu makan malam kami datang

” hmm kayaknya jadi, aku dah bilang papa juga untuk pinjam transport ke sana.. ” jawabnya sambil meminum ice ochanya

” jauh kayaknya ya, tapi kita pergi sama yang lain juga kan ?? ” tanyaku kawatir

” iyalah ajak yang lain, masa berdua.. Gimana izin sama mama papa kamu.. Lagi aku kan sengaja kesana ajak yang lain, supaya suasananya agak private, mudah-mudahan semua sesuai yang aku rencanakan ” katanya sambil memainkan alisnya nakal

” ich ngerencanain apa sih kamu hah.. Mesum nih omes dasar.. ”

” enak aja mesum dari mana, ini tentang Rey, Ryan, angel dan jack.. Mudah-mudahan aja dengan berada disana mereka bisa tentuin sikap mereka. ” katanya mantab sambil tertawa, memang begitu yang namanya Edison.. Dibalik sikap konyolnya yang dibuat-buat, aku tahu dia selalu berusaha terlihat konyol untuk menyenangkan orang lain. Dia selalu memikirkan orang lain dan selalu punya rencana untuk membantu orang lain, sikapnya itu yang kadang terlalu beresiko tapi kepeduliannya itu juga yang membuatku begitu jatuh hati padanya.

Aku hanya bisa mengiyakan, sambil mengaduk makanan yang kupesan, aku hanya bisa mengingatkan agar dia tidak terlalu nekad melakukan hal Ini.

##

Tepian Hati : Jessica Irina
Sambil memeluk Karen aku membantu Edi dan Vic mencari tali yang cukup panjang dan kuat, sementara Mell dengan cekatan membantu Karen membersihkan luka-luka dan kotoran ditubuhnya. Aku melirik Ryan dan Rey yang menghentikan pembicaraan mereka saat melihat Karen yang digendong oleh Edison tadi sampai ke pintu kapal, Vic langsung memeriksa keadaan Karen dan meminta Mell membantu membersihkan tubuh Karen.

” Gpp, cuma keseleo aja koq.. ” ucap Vic sementara Edison sudah berlari keluar kembali ke jalur pendakian, Vic pun memintaku mengambilkan senter dan tali untuknya mengejar Edison keluar, demikian juga dengan Rey dan Ryan yang ikut mengejar keduanya. Vic bersama Edison sementara Rey dan Ryan menyelusuri jalur lain mencari Jack dan Angel yang menghilang di jalur pendakian terus.

Karen hanya menutup matanya.menangis menahan rasa sakit, entah apa yang sebenarnya terjadi sampai semua menjadi seperti ini, sementara Cheryl menuruti apa yang dikatakan oleh Edison tadi untuk memberi tahu pak Wildan agar bersiap meninggalkan pulau kapan saja.

Hujan yang begitu malah kian deras disertai angin kecil dan petir yang menyambar membuat aku kian kalut. Ada orang yang kucintai diluar sana dalam cuaca seperti ini.

” Kamu disini aja ya sama Cheryl jagain Karen.. ” aku tak menunggu jawaban kembaranku itu dan langsung melompat keluar menyelusuri hutan, entah berapa lama aku berlari, tubuhku yang telah basah oleh hujan, dan nafasku yang terengah kelelahan, sesekali aku terjatuh, sakit memang tapi tak kuhiraukan meski masih berhati-hati aku hanya khawatir aku tahu dia begitu ceroboh dan rasanya tidak lucu kalau sampai dia ikut terluka karena kecerobohannya.

Aku menghela nafas lega saat melihat Vic dan Edison tengah sibuk mengikat tali ke badan mereka dan ke arah pohon besar di dekat jurang itu. Aku berlari mendekat mencari apa yang bisa kubantu.

” udah tenang aja yang.. Kamu tunggu sini ya, mungkin angel yang akan duluan naik, kamu tolong jaga dia ya.. ” jawabnya sambil mulai melompat turun setelah memastikan ikatannya cukup kuat.

Jack yang naik terlebih dahulu, sementara aku melirik Jack yang terlihat begitu lemah, bibirnya pucat aku terus mengajaknya berbicara agar tidak hilang kesadarannya. Sementara Vic dan Edison kembali melompat turun untuk menyelamatkan Angel

Dengan berhati-hati keduanya mengangkat Angel naik, aku melihatnya yang hanya tinggal mengenakan bra dan celana pendeknya, dia menangis setelah memohon berulang-ulang untuk menyelamatkan Jack lebih dulu.

Aku langsung memeluknya, tangan dan tubuhnya yang berwarna merah oleh darah, tubuhnya gemetaran, aku tahu bukan karena kedinginan, tapi karena tangisannya yang meraung hebat.

” Tenang ya, semua ga akan kenapa-kenapa koq.. Trust me.. ” bisikku sambil memeluknya erat, kulihat bagaimana Vic dan Edison yang tengah berusaha keras menyelamatkan Jack yang terlihat begitu lemah. Sementara sesaat kemudian Angel kehilangan kesadaraanya, beruntung Ryan dan Rey menemukan kami hingga bisa membantu mengangkat Angel sementara Vic, Ryan dan Edison mengangkat Jack yang terluka kembali ke kapal.

##
Hujan memang berhenti dan angin pun telah berlalu, namun tidak dengan badai di malam itu, kami memutuskan pulang ke malang malam itu juga, Vic dengan pendidikan kedokteran dan pengalamannya berusaha menyelamatkan Jack dengan peralatan seadanya. Tapi yang jadi masalah adalah darah Jack telah terlalu banyak keluar.

Dia membutuhkan transfusi darah, tanpa adanya kantung darah di kapal ini, masih butuh 3 jam perjalanan untuk sampai di malang, sementara ambulance telah bersiap di pelabuhan nanti setelah pak Wildan menghubungi pelabuhan dengan komunikasi radio.

Tapi itu belum menyelamatkan Jack, dia butuh transfusi darah saat ini juga, golongan darahnya O dan satu-satunya di kapal ini yang bergolongan darah O adalah..

” Aku, pakai darah aku.. ” ucap Karen, Edison terlihat ragu, sementara dia mungkin telah menebak apa yang sebenarnya terjadi antara Jack, Karen dan Angel tadi.

Berbeda dengan Vic yang langsung menyiapkan peralatan untuk mentransfusi darah dari Karen menuju Jack, untuk menyelamatkan nyawa Jack.

Dan seperti yang kukatakan, badai belum berlalu sesaat sinyal ponsel dapat kami jamah, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Rey..

Dia langsung menelpon dan berbicara begitu serius, sebelum air mata mulai menetes dari pelupuk matanya, Edison mendekati Rey berusaha menanyakan apa yang terjadi.

” Bokap gw di, bokap gw … Meninggal.. ” akhirnya Rey tak mampu lagi menahan tangisannya, tangisan itu pun meledak, suasana menjadi kian kelam..

Setengah jam kemudian kami berlabuh.. Vic dan Edison dibantu oleh para perawat memasukan Jack dalam ambulance bersama Angel, sementara Vic ikut serta dalam ambulance untuk memberi informasi mengenai keadaan Jack.

Sementara aku naik mobil bersama karen, edison, Mellisa dan pak wildan meninggalkan Ryan, Rey dan Cheryl yang sepertinya terlibat pembicaraan yang penting.

Edison yang sepanjang jalan menyalahkan dirinya, dia pun menghubungi orang tua Jack sambil meminta maaf, dan sepertinya mereka berencana berangkat ke malang malam itu juga.

Jack mendapatkan beberapa jahitan di tubuhnya, masa kritisnya telah lewat berkat penanganan yang cukup cepat tepat dari Vic, sementara Angel berdasarkan hasil CT scan tidak mengalami gegar otak. Hanya sedikit benturan dan luka di kepalanya tanpa harus dijahit.

Lewat tengah malam kedua orangtua Jack datang, mama Jack terlihat begitu khawatir, raut wajahnya terlihat begitu letih menahan tangisan, Karen dan Edison langsung menerangkan keadaan Jack sebelum kemudian mengantar keduanya ke ruang dokter.

Sementara Ryan yang lebih banyak diam sendari tadi, wajahnya terlihat berfikir keras, tak ada yang dapat membuat Ryan berbicara dia memilih dalam kesendirian ini mencoba mengenyahkan kegundahannya seorang diri.

To Be Continued

Author: 

Related Posts

Comments are closed.