Cerita Sex Pelangi Monokrom – Part 4

Cerita Sex Pelangi Monokrom – Part 4by on.Cerita Sex Pelangi Monokrom – Part 4Pelangi Monokrom – Part 4 Part 4 : Hujan Deras Aku pandangi novel milik Niar yang berjudul ‘Kamu Tidak (Bisa) Sendirian’, bukan untuk aku baca, tapi untuk aku mintai tanda tangan oleh penulis aslinya. Huft, hari ini ada acara beda buku dengan si penulis, sekaligus acara tanda tangan. Acara itu berlangsung di mall tempat aku […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-0 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-1 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-2Pelangi Monokrom – Part 4

Part 4 : Hujan Deras

Aku pandangi novel milik Niar yang berjudul ‘Kamu Tidak (Bisa) Sendirian’, bukan untuk aku baca, tapi untuk aku mintai tanda tangan oleh penulis aslinya. Huft, hari ini ada acara beda buku dengan si penulis, sekaligus acara tanda tangan. Acara itu berlangsung di mall tempat aku pameran. Niar minta aku untuk datang ke acara tersebut, karna dia hari ini kuliah. Dasar fans.

Selesai sarapan di sebuah warung yang gak jauh dari kosanku, aku bersiap untuk berangkat kerja.

“Mas…mas, ojek ya, anterin aku ke mall Ambasador donk,” seorang wanita tiba-tiba menepuk-nepuk pundakku, dia terlihat tergesa-gesa.

Wah mbak aku bukan tukang ojek,” aku sedikit kikuk, gile disangka tukang ojek.

“Nah ini kamu disini, pangkalan ojek,” sanggah si wanita, kampret aku baru sadar kalau parkir di pangkalan ojek, dan cuma motor aku satu-satunya yang ada disini. Para tukang ojek sedang ada sewa semuanya.

“I-iya sih, tapi-“

“Udah mas, anterin aku cepet, mobil aku mogok, aku buru-buru nih,” tanpa menunggu persetujuan aku, si wanita langsung membonceng motorku.

Hhhmmmm, kebetulan banget aku sedang pameran di mall yang sama dengan tujuan wanita itu. Mau gak mau, aku mengantarkan si wanita, gak ada yang banyak dibicarakan sepanjang perjalanan, karna dia sibuk menerima telpon orang-orang yang menanyakan keberadaannya.

Sesampainya di mall, kami langsung berpisah, dia memberiku selembar udah merah tapi aku menolaknya, karna aku bukan tukang ojek dan karna kebetulan aja tujuan kami sama jadi aku mau mengantarkan dia, itu juga terpaksa.

0ooo0
Hari ini aku lagi bersemangat kerja, karna besok aku libur dan juga karna baru aja aku dateng langsung dapet konsumen. Hampir lupa dengan permintaan Niar, segera aku bergegas ke lantai 2 tempat acara berlangsung.

Sangat ramai antrian tanda tangannya, bahkan aku sampai gak bisa melihat sosok penulis idolanya Niar. Setiap orang pada membicarakan isi dari novel ini, ada beberapa orang yang mengajak aku ngobrol tentang novel, tapi aku gak banyak tau selain yang diberi tahu Niar.

Hampir satu jam aku mengantri, banyak yang mengeluh pegal, untung saja aku terbiasa berdiri sampai berjam-jam menyebarkan brosur motor.

“Kamu !” si penulis terkejut saat melihat aku, dan akupun terkejut saat melihat dia.

“Eh mbak,” aku menyahut, iya dia adalah wanita yang tadi memaksaku untuk mengantarkannya ke sini.

“Kamu sales motor ya ?” dari seragam yang aku kenakan dia bisa menebak.

“Iya, kebetulan aku pameran di lantai 1, ini temen aku fans berat kamu, nitipin ini buat di tanda tangani, dia kuliah jadi gak sempet kesini,” aku menyodorkan novel milik Niar.

“Oohhh, kamu temen yang baik ya,” si wanita lalu membuka novel tersebut, menandatangani terus kembali berucap, “nama teman kamu siapa ?”

“Niar.”

“Oke,” lalu kembali dia menulis sepatah kata untuk Niar, ‘dear Niar, terima kasih telah menyukai karyaku, semoga sukses ya kuliahnya’, dan diakhiri dengan gambar emotikon tersenyum.

“Makasih ya,” aku mengambil novel lalu berbalik hendak pergi meninggalkan tempat acara.

Aku ambil hapeku, lalu membalas kicauan bbm Niar yang dari tadi mengingatkanku, ‘jangan lupa ya minta tanda tangan !’ mana pake tanda seru 3 lagi. “IYA BAWELLLL !” tanda serunya aku banyakin huahahahaha.

0ooo0
“Hei, belum pulang,” aku mengangkat kepalaku ke arah suara wanita yang memanggilku.

“Eh kamu, belum nanti jam delapan,” aku menyahut, si wanita penulis tadi datang menemuiku dengan membawa dua kotak makanan cepat saji.

“Kamu udah makan belum ?” dia duduk tepat di depanku, kami hanya dipisahkan sebuah meja bundar.

“Ini baru mau jalan cari makanan.”

“Ini aja,” dia menyodorkan kotak makanan cepat saji untukku.

“Ah, kan aku bilang gak perlu dibayar,” aku sedikit menolak, walaupun lumayan juga dapet makan gratis.

“Ini bukan bayaran kok, hihihi,” dia tersenyum, manis juga penulis yang satu ini.

Kamipun makan bersama, selama makan kami terdiam fokus terhadap apa yang kami makan. Beda ya orang kalangan atas seperti dia, caranya makan sangat anggun, dikunyah pelan-pelan, dan gak ada suara kecapan sewaktu mengunyah makanan. Cara dia menyendok makanannya pun beda, lembut banget.

Aku jadi senyam-senyum sendiri melihat cara dia makan, hhhmmmm. Dari caranya berpakaian juga terlihat anggun, dia memakai kaos putih dan juga rok biru tua panjang sampai diatas mata kaki beberapa centi.

Eh eh eh, kok aku jadi sibuk mengaguminya ya, wajahku memanas.

“Oh iya, kita belum saling kenal loh,” dia membuyarkan lamunanku dan mengulurkan tangannya, aku juga baru sadar, “Shinta.”

“Rama,” aku menyambut uluran tangannya, halus banget, merinding jadinya.

“Wah kayak di cerita India itu ya, hihihi,” Shinta sedikit menunduk. Ah aku jadi malu, ‘Rama dan Shinta’. Aku kok jadi semakin jauh melamunnya, jelas status kami berbeda.

“Hhmmm,” bingung aku harus menanggapi apa.

“Oh iya, aku pergi dulu ya,” Shinta berdiri, ada sedikit rasa kecewa saat dia ingin pergi.

“Ah, hhmmm,” aduh susah banget sih mau ngomong aja, aku coba mengatur nafas, bukannya membaik malah semakin sesak karna dipenuhi oleh aroma wanginya, “boleh minta kartu namanya ?”

Aku berikan kartu namaku, tanpa pikir panjang Shinta juga memberikan kartu namanya. Ada perasaan lega saat mendapatkan kartu namanya, walaupun aku gak tau ada keberanian atau enggak untuk menghubunginya.

0ooo0
“Ram……Ramaaaaaaa bangun Ram udah jam berapa ini,” suara cempreng Niar yang sambil menggedor-gedor pintu kamarku terdengar riuh. Nih cewek kalau aku libur pasti ribet kayak gini, padahal kan dia hari ini kuliah.

“Bruaaakkk,” gile pinta kamarku berusaha Niar didobrak, daripada rusak, aku segera membukakan pintu kamarku.

“Gue lagi tidur Niar, pintu gue bisa jebol kalo elo dobrakin mulu, cowok apa cewek sih elo ini,” dengan mata sayu aku coba mengomel, omelanku terdengar lemas karna masih ngantuk.

“Hihihihi, abis gak bangun-bangun,” dengan wajah tanpa dosa Niar menggaruk-garuk kepalanya.

“Ada apa sih lo bikin rusuh bukannya kuliah sono, kasian nyokap bokap lo biayain mahal-mahal kuliah elo, anaknya malah kayak tarsan disini,” aku bersandar di pintu menatap wajah pura-pura lugunya Niar.

“Sembarangan lo kalo ngomong,” Niar menunjukan kepalan tangannya di depan wajahku, “elo kan libur hari ini, anterin gue kuliah yuk, elo tungguin gue di kampus, sebentar kok cuma dua jam hari ini gue kuliah.”

Minta disaduki nih cewek, “terus gue kayak orang bego gitu selama dua jam nunggu lo kuliah ?”

“Ya enggak, elo ngapain kek disana dari pada elo mondar mandir kosan-kampus, mending lo tungguin gue, sayang bensinnya tau,” kelewatan ya lama-lama cewek satu ini.

“Kalo gue gak mau, elo mau apa ?” gue coba tengil-tengilin.

“Gue acak-acak ini kamar,” tengilan dia ternyata, dan dia ngomong gitu dengan wajah tersenyum, bener-bener sok lugu, “abis itu elo anterin gue ke toko boneka ya hihihi !”

Hamer

0ooo0
Percuma debat sama perempuan itu, mau berargumen seperti apapun dengan fakta-fakta seakurat apapun, tetep gak bakal bisa menang. Contohnya aku, debat panjang lebar dengan Niar, ujung-ujungnya saat ini aku sedang berada di kampusnya, menunggu dia melahap materi kuliah.

Aku duduk di kantin kampus, entah berapa aktifitas yang sudah aku jalani, mulai dari pesan makanan, mainan hape, sampai baca novel milik Niar, aku gak terlalu suka baca-baca, jadi aku baca 1 / 2 lebar terus diselingi main hape, begitu seterusnya. Tetap membuatku bosan, walaupun banyak wanita cantik berseliweran disini.

“Heiiiiiiiii,” Niar melambaikan tangannya dari kejauhan, lalu berjalan cepat dan riang menujuku, “enak kan di kampus gue.”

Enak ndasmu, “yeeee,” aku menjawab malas.

“Yuk ah ke toko boneka,” Niar langsung menarik tanganku, berjalan menuju parkiran motor.

aku punya perasaan gak enak nih kayaknya, dia semangat banget minta diantar ke toko boneka. Sesampainya di toko, kami berkeliling mencari boneka yang sesuai keinginan Niar.

“Barbie ?” aku memicingkan alisku saat melihat boneka yang diinginkan Niar.

“Iya, bagus ya,” dia mengambil boneka itu lalu diperhatikannya lekat-lekat, “beliin gue ya ?”

“Heh,” aku cuma bengong.

“Baru dapet insentif juga, pelit amat sih,” Niar menyenggol pundakku kencang.

Pppffttt, wajahnya itu loh gak banget saat memaksaku, mata sayu, kedua alis memicing, lalu bibir dirapatkan. Huh, lagi-lagi aku gak mampu menghindari tatapan bengisnya. Aku biarkan lembar demi lembar yang tadinya berbaris rapi di dompetku, bermigrasi menuju dompet si penjual boneka.

Kami pulang saat matahari tenggelam dengan perasaan…. ah sudahlah gak perlu lagi dijelaskan, yang jelas saat ini Niar sedang berbicara entah apa aku malas mendengarkannya. Sangat riang cenderung cerewet, mengarah ke bawel, udah kayak anak kecil yang dapet mainan baru.

Saat diperjalanan hujan deras datang mengguyur, aku buru-buru memarkir motorku di depan sebuah halte. Kami berdua meneduh, biasanya kalau hujan gini banyak yang neduh juga, tapi khusus di halte ini hanya kami berdua.

“Kenapa gak jalan aja sih, mumpung hujan tau,” Niar merengek.

“Hujannya deres banget, lagian bisa sakit kalo kehujanan.”

Dia menjulurkan kedua tangannya, menadangi air hujan dengan kedua telapak tangannya.

“Kluntang-kluntang,” terdengar suara-suara kecil yang menghantam atap halte.

“Hujan es Ram,” Niar semakin kegirangan, bongkahan es kecil-kecil kini jatuh di telapak tangannya, “hiiih dingin.”

Sedikit bergidik dia, aku tersenyum memperhatikan sifat riangnya. Walaupun aku lumayan kesal dengan sifat pemaksanya, tapi jujur saja aku iklhas, bahkan jauh di lubuk hatiku, aku berterima kasih padanya. Aku melangkah maju beberapa langkah mensejajarkan dengannya disamping. Guntur menyambar-nyambar, menghasilkan kilau kilat yang terang.

“Niar, makasih ya.”

“Makasih untuk apa ?” Niar menatap awan yang memuntahkan air beserta es kecil. “Gue kali yang berterima kasih, elo udah mau turutin permintaan gue, hihihi.”

Enggak Niar itu gak seberapa dibanding dengan penerimaan kamu, gak ada yang bisa seperti kamu, semua orang pasti menjauhiku begitu tahu siapa aku. Yeah aku beruntung bisa kenal denganmu saat ini Niar.

“Oh iya, gimana cinta monyet elo udah ketemu belum ?” aku bertanya, masih memperhatikan wajah riangnya, “apa yang bisa gue bantu untuk menemukannya ?”

“Hhmmm, elo gak usah mikirin itu,” Niar tersenyum, berjalan dua langkah membuat air hujan mengalir di tubuhnya, terlihat sangat tenang. Dia merentangkan kedua tangannya, lalu menoleh kearahku dengan mata yang memerah, “yang gue cari bukanlah wujud, tapi sekeping momen.”

Hu

Author: 

Related Posts

Comments are closed.